Memahami Pola Customer Centric

Memahami Pola Customer Centric

Kresnayana Yahya. foto: arya wiraraja/enciety.co

Saat ini, kita dihadapkan dengan perubahan pola usaha yang dikenal dengan customer centric. Di mana, segala bentuk kegiatan usaha, mulai dari proses produksi hingga pemasaran dikendalikan berdasarkan pada keinginan dan kebutuhan customer.

“Perubahan pola usaha customer centric tersebut kini sangat dipengaruhi oleh keinginan generasi muda,” kata Chairperson Enciety Business Consult Kresnayana Yahya, dalam acara Perspective Dialogue radio Suara Surabaya, Jumat (21/9/2018).

Kresnayana mencontohkan Kota Surabaya. Kurang lebih 30 persen penduduk Surabaya saat ini adalah anak muda, usianya di bawah 30 tahun. Jika dinalar, anak muda yang penghasilannya itu berperan menentukan perubahan tren market dan harga pasar.

“Percaya atau tidak, pola keinginan dari mereka ini sangat menentukan pasar. Salah satu contoh bisa dilihat produk ice cream. Penjualan produk ini makin tinggi karena disukai anak muda. Faktor pendukungnya memang beragam. Mulai dari cuaca panas sampai komposisi ice cream yang mengandung susu dan coklat selera anak muda,” kupas Bapak Statistika Indonesia itu.

Kondisi ini, terang dia, sangat mempengaruhi perubahan pola konsumsi, pola belanja, dan pola perdagangan. “Ini menjadi positif bagi dunia usaha yang lain. Contohnya, dunia kesehatan dan dunia industri. Bahan makanan, misalnya,” jabar Kresnayana.

Dia lalu menyinggung kenaikan nilai dolar AS terhadap rupiah. Kata dia, kenaikan mata uang AS memang sangat tinggi. Namun jika dibandingkan pada tahun 1998 dan tahun 2008, kondisi perekonomian nasional tidak goyah dengan perubahan tersebut.

Salah satu teknik rahasia yang dilakukan pemerintahan saat ini adalah pemberlakuan kebijakan yang disebut Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN). “Dalam komponen kebijakan tersebut, ada satu poin yang mengatur pembatasan impor dan meningkatkan ekspor,” tandas Kresnayana.

Saat ini, imbuh dia, banyak orang bilang jika perdagangan kita sedang lesu karena nilai rupiah turun. Namun, sebenarnya mereka tidak cermat dengan perubahan. Ada faktor prioritas lain yang diinginkan pasar, seperti kebutuhan pendidikan, rekreasi, dan olahraga yang sekarang permintaan pasarnya sedang naik.

“Nah, jika ingin usahanya maju, faktor pendukung dan pola perubahan yang terjadi dalam dunia usaha semacam ini musti dipahami para pembuat kebijakan dalam sebuah perusahaan,” tegas Kresnayana. (wh)