Memahami Gen Z agar Tidak Alami Keterasingan dalam Keluarga

Memahami Gen Z agar Tidak Alami Keterasingan dalam Keluarga
Kresnayana Yahya, foto: enciety.co

Kemajuan teknologi dewasa ini sangat berpengaruh terhadap status sosial masyarakat. Peran serta orang tua dalam membimbing buah hatinya diperlukan untuk meminimalisasi keterasingan di dalam suatu keluarga.

Chairperson Enciety Business Consult Kresnayana Yahya mengatakan, saat ini  terdapat sekitar 100 juta dari 130 juta masyarakat usia muda yang tumbuh di Indonesia.

“Rata-rata yang disebut usia muda yang tercatat adalah 28 tahun. Dan anak muda sangat menguasai jumlah penduduk Indonesia,” ujar Kresnayana Yahya dalam acara Perspective Dialogue bertajuk “Kecenderungan Perilaku dan Tindakan Generasi Z” di Radio Suara Surabaya, Jumat (28/8/2015).

Para pemuda yang berada di zaman kini sering disebut dengan generasi Z (lahir antara 1995-2010) atau Gen Z atau dikenal dengan generasi terkoneksi. Karena anak-anak ini sudah terbiasa mengenal internet sejak kecil.

“Dan generasi Z kini menjadi mayoritas penghuni di Indonesia,” imbuh Kresnayana yang juga dosen statistika ITS Surabaya ini.

Menurut dia, orang tua dan masyarakat harus bersama-sama mengetahui bagaimana caranya agar bisa berkomunikasi dan bekerja dengan anak-anak Gen Z tersebut yang mayoritasnya berada di dunia media sosial (medsos) tersebut.

“Karena kadang orang tua tidak mengerti tentang anaknya yang berada di generasi Z ini. Anak-anaknya mempunyai gaya sendiri dan dianggap aneh,” ucapnya.

Di sisi lain, Gen Z mempunyai banyak ide dan talenta dibanding generasi sebelumnya. Bahkan pada umur 12 tahun dan 14 tahun, si anak sudah pintar di ekonomi kreatif. Mereka pintar mendesain dan berproduksi serta bekerja dengan dunianya tanpa mengganggu yang lain.

“Mari kita coba membedah dari sisi manusianya jangan dari sisi negatifnya,” tuturnya.

Psikolog Astrid Wiratna membenarkan bila masa muda kelahiran tahun 1995 dan 2010 merupakan usia produktif. Selain sudah mengenal internet, mereka juga fasih berbahasa Inggris.

Dirinya menyatakan bila kesemuanya bisa karena seorang manusia dibangun dari kebiasaan. “Bahkan, sekarang kan bisa menghadirkan teman yang jauh dengan menggunakan teknologi Skype. Namun hal ini juga mengandung risiko,” ujar Astrid Wiratna.

Risiko tersebut, sebut dia, yaitu masa muda lebih banyak mengenal kebiasaan instan dan tidak sabaran. Karena menurut wanita ini, generasi muda sekarang kebanyakan hanya terbiasa di depan komputer dan hanya fokus pada satu titik saja.

Dan hal tersebut sangat berbeda dengan generasi lama yang masih butuh sosialisasi dengan orang lain. “Generasi Z sekarang memakai gadget memakai emoticon dan kadang tidak sesuai dengan keadaan. Menyapa orang tuanya dengan emoticon di BB. Dan itu tidak sepatutnya” ujarnya, lalu tertawa.

Dirinya mengakui, bila internet di zaman sekarang mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat. Dan dirinya percaya tiap individu masing-masing mempunyai kebaikan tersendiri. Makanya dirinya menyarankan agar generasi terdahulu harus bersama dengan generasi masa depan.

“Harus ada kompromi. Seperti memahami perilaku Gen Z di kantor dan sekolah. Karena internet dan teknologi menjamur generasi ini,” tandasnya. (wh)

Marketing Analysis 2018