Memahami Arti Kemerdekaan Generasi Milenial

Memahami Arti Kemerdekaan Generasi Milenial

Qonita Nabila,, Winardi Litanto, dan Kresnayana Yahya dalam acara Perspective Dialogue Radio Suara Surabaya, Jumat (10/8/2018). foto: arya wiraraja/enciety.co

Banyak orang tua punya persepsi berbeda terhadap kiprah anak muda masa kini atau yang sering disebut generasi milenial. Baik cara pandang maupun pola pikir dan tindakan. Seperti Hari Kemerdekaan. Zaman dulu, arti kemerdekaan itu terbebas dari penjajah, berjuang dengan cara angkat senjata. Namun, sekarang arti kemerdekaan bagi anak muda adalah bebas berekspresi.

“Anak-anak muda sekarang dapat bebas berekspresi di akun sosial media mereka dengan cara upload foto apa saja, mengomentari apa saja yang ada dalam pemikirannya,” tegas Chairperson Enciety Business Consult Kresnayana Yahya dalam acara Perspective Dialogue Radio Suara Surabaya, Jumat (10/8/2018).

Acara ini juga menghadirkan dua narasumber, yakni Qonita Nabila (Co Founder & CMO Renjana) dan Winardi Litanto (CEO PT Tangan Kanan Solusindo).

Kresnayana lalu mengatakan, apa yang dilakukan anak-anak muda tersebut bukanlah hal buruk. Mereka punya persepsi berbeda dengan para orang tua yang lahir di tahun 1950-an.

“Apalagi kondisi sosial ekonomi Indonesia sekarang juga tidak dapat disamakan dengan kondisi yang dirasakan golongan orang tua,” terang dosesn Statistika ITS Surabaya ini.

Kata Kresnayana, lewat kemerdekaan berekspresi, anak-anak muda zaman now dapat menorehkan prestasi. Dia menyebut Muhammad Zohri, yang mengukir prestasi menjadi juara lomba lari 100 meter pada kejuaraan dunia atletik U-20.

“Namun seringkali prestasi yang ditorehkan anak muda dianggap remeh oleh para orang tua. Contohnya, ada satu mahasiswa saya yang berhasil membuat alat yang dapat meningkatkan produktivitas perikanan. Lha iya, wong sekolah tinggi malah ngurusin ikan tambak. Padahal prestasi semacam ini berguna bagi kehidupan, lha kok malah mendapat cibiran dari orang-orang tua,” ujar pria yang dikenal sebagai Bapak Statistika Indonesia ini.

Prestasi-prestasi semacam ini, terang Kresnayana, yang dibutuhkan Indonesia di masa depan. Apa yang telah dilakukan oleh bangsa Indonesia ketika merayakan 100 tahun kemerdekaan di kemudian hari dapat diukur dari keberhasilan anak muda sekarang. “Ya, dengan apa yang telah mereka capai beberapa tahun ke depan,” cetusnya.

“Orang itu sukses itu bukan hanya diukur berdasarkan materi yang dapat dikumpulkan. Yang terpenting, kepuasan batin dan ketersediaan hati bagaimana apa yang dilakukan saat ini berguna bagi orang banyak,” timpal Kresnayana. (wh)

Berikan komentar disini