Mau Investasi, Perhatikan Fundamental Perusahaan

Mau Investasi, Perhatikan Fundamental Perusahaan

Dewi Sriana Rihantyasni dan Achmad Ridwan. foto: arya wiraraja/enciety.co

Bursa Efek Indonesia (BEI) mengemban dua tugas utama. Pertama, menjelaskan jika pasar modal merupakan tempat berinvestasi. Kedua, pasar modal merupakan tempat para pelaku bisnis mencari pendanaan.

“Keberadaan pasar modal saat ini menjadi hal yang sentral. Artinya, pasar modal saat ini menjadi salah satu pilihan utama masyarakat melakukan investasi. Untuk itu, sudah jadi tugas kita untuk meningkatkan pemahaman masyarakat dalam hal investasi,” kata Kepala Kantor Bursa Efek Indonesia (BEI) Perwakilan Jawa Timur Dewi Sriana Rihantyasni, dalam acara Perspective Dialogue Radio Suara Surabaya, Jumat (15/2/2019).

Menurut Ana, begitu sapaan karibnya, untuk meningkatkan literasi investasi bagi masyarakat, pada tahun 2019 BEI Perwakilan Jawa Timur memiliki beberapa program yang bakal dilakukan. Yakni, Sekolah Pasar Modal (SPM) konvensional, SPM Syariah, dan Sekolah Reksadana.

“Selain ketiga program tersebut, yang terbaru dan yang sedang kita rumuskan adalah Sekolah Obligasi. Dalam program ini, kami ingin agar masyarakat memahami apa saja yang perlu dilakukan untuk bisa “bermain” atau melakukan investasi di pasar modal,” tegasnya.

Ana lantas menjelaskan poin penting yang harus diperhatikan ketika masyarakat ingin berinvestasi di bursa saham. Yakni, memperhatikan fundamental perusahaan yang akan menjadi tempat investasi.

“Laporan keuangan yang sehat dan track record perusahaan menjadi beberapa poin penting yang harus diperhatikan. Berbagai info tersebut bisa didapatkan para calon investor di kantor kami di BEI,” paparnya.

Pada kesempatan sama, Branch Manager BNI Sekuritas Surabaya Achmad Ridwan menuturkan, saat ini masyarakat mulai memahami pentingnya pasar modal. Dulu, jika orang ingin menabung, uangnya ditaruh di bawah bantal. Seiring berjalannya waktu, orang makin sadar, jika uang disimpan di bawah bantal nilainya tidak akan bertambah.

“Kesadaran akan investasi mulai tumbuh. Akhirnya banyak orang mulai menabung atau berinvestasi dalam bentuk deposito. Belakangan, orang sudah makin pintar. Mereka sadar, jika berinvestasi dalam bentuk deposito nilainya bakal kalah dengan nilai inflasi tahunan. Hingga saat ini orang mulai melakukan investasi dengan bentuk yang lain. Salah satunya berinvestasi di pasar modal,” papar dia.

Menurut Ridwan, pasar modal tidak lepas dari risiko. Rumus yang biasa digunakan adalah high risk high return. Makin tinggi risikonya, makin tinggi pula keuntungan yang didapat. Pasar modal merupakan dunia yang sangat dinamis. Mulai tahun 2014 nilai saham gabungan bergerak dinamis. Terakhir, di akhir 2018, menyentuh diatas 6.100 poin. Sedangkan untuk sistem auto rejection yang diberlakukan saat ini sekitar 30 persen.

“Padahal dulu sistem itu dibatasi hanya mencapai 10 persen. Artinya, sampai saat ini pasar modal didorong untuk tumbuh dan berkembang. Sebenarnya, pemberlakukan sistem auto rejection ini diberlakukan untuk melindungi investor dan bukan membatasi. Nah, inilah pentingnya edukasi kepada calon investor pasar modal,” paparnya.(wh)