Masyarakat Harus Bijak Menggunakan Air Bersih

Masyarakat Harus Bijak Menggunakan Air Bersih
Direktur Utama PDAM Surya Sembada Surabaya Ashari Mardiono bersama Kresnayana Yahya dalam acara Perspective Dialogue di Radio Suara Surabaya, Jumat (2/10/2015). sandi/enciety.co

Bahan baku air minum di Kota Surabaya hingga awal Oktober, berdasarkan data Perum Jasa Tirta yang disampaikan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Surabaya, tercatat di Instalasi Pengolahan Air Minum (IPAM) Ngagel ada di level 20 atau 2 meter. Sedangkan di IPAM Karang pilang masih tersedia persediaan air minum di level 48.

Jasa Tirta sendiri sebagai pengelola air sungai di Jatim telah memenuhi bahan baku ke PDAM Surabaya melalui dua sungai, yaitu Kali Surabaya yang berada di Karang Pilang dan Kali Jagir. Selain itu, pihak Jasa Tirta Jatim sendiri hingga kini juga mendapatkan suplai sumber air minum dari Umbulan dan 16 sumber air lainnya seperti Pandaan dan Pasuruan.

Tercatat, dari 3 juta jumlah penduduk kota Surabaya, ada 535 ribu masyarakat yang menjadi pelanggan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Surya Sembada hingga akhir bulan Agustus 2015.

“Dan itu baru 92 persen rumah tangga saja yang baru terlayani pasokan air oleh PDAM Surabaya,” tegas Chairperson Enciety Business Consult, Kresnayana Yahya dalam acara Perspective Dialogue di Radio Suara Surabaya, Jumat (2/10/2015).

Dengan keadaan ini, Kresnayana berharap agar masyarakat Surabaya semakin bijak untuk menyikapi penggunaan air bersih. Ia mencontohkan bila kini ada sebuah lelucon yang paling banyak dipakai masyarakat, bahwa yang paling banyak memakai penggunaan air PDAM kota Surabaya dipergunakan untuk mencuci mobil, bukan orangnya.

Selain itu, imbuh dosen Statistika ITS Surabaya ini meminta agar pelanggan PDAM dapat menggunakan air serasional mungkin. Seperti mencuci baju jangan sehari memakai baju langsung dicuci. Tapi diharapkan ditumpuk dulu hingga beberapa hari kemudian hingga banyak.

“Apalagi sekarang mesin cuci kapasitas besar 5 kg mampu membersihkan baju sebanyak mungkin. Ini salah satu cara hemat air. Juga masyarakat di rumah lebih bagus pakai pancuran dibanding pakai gayung. Karena dengan shower penggunaan air lebih sedikit yaitu 3-4 liter. Sedang pakai gayung bisa buang air hingga 8-10 liter,” tuturnya.

Direktur utama PDAM Sembada Surya Ashari Mardiono mengatakan pertumbuhan penduduk Surabaya yang mencapai 3 juta orang, perharinya dirata-rata per orang bisa memakai air hingga 190 liter. Padahal standart kota Metropolis seperti Surabaya ini hanya 145 liter per orang perharinya.

“Kalau WHO menetapkan kebutuhan dasar seperti minum dan mandi hanya 40-60 liter per orang perhari. Perbedaan yang sangat besar dalam penggunaan air,” kata Ashari Mardiono.

Hingga kini, pihak PDAM Sembada Surya masih memakai bahan baku air kali Jasa tirta untuk disalurkan ke pelanggan. Nantinya, bisa saja air laut dipakai sebagai bahan baku yang akan disalurkan ke pelanggan dengan memakai reverse osmosis (RO) namun hal tersebut memakan biaya yang mahal.

“Pelanggan Surabaya paling murah dibebani Rp 3 ribu sedang bila pakai RO bisa mencapai Rp 16 ribu. Mungkin belum bisa sekarang kalau pakai air laut sebagai bahan baku PDAM,” ujarnya.

Selain itu, pihak PDAM Surya Sembada juga berusaha untuk menghilangkan kebocoran atau tingkat kehilangan air yang tercatat masih 26 persen. Negara Jepang dan Singapura saja kini bisa mencegah tingkat kehilangan air hanya 7-8 persen saja.

“Kalau Indonesia, PDAM Surabaya tetap yang terbaik dan berprestasi. Target kami 20 persen kehilangan air nantinya,” pungkasnya. (wh)