Mahasiswa ITS Manfaatkan Limbah Kelapa Sawit untuk Beton SCC

Mahasiswa ITS Manfaatkan Limbah Kelapa Sawit untuk Beton SCC

Agus Bastian ], Cita Nanda Kusuma Negari, dan David Gideon.foto:ist

Perkembangan teknologi beton saat ini mengarah pada beton dengan tingkat fluiditas yang tinggi dan tidak memerlukan alat pemadat, atau dikenal dengan nama beton Self Compacting Concrete (SCC). Terkait hal tersebut, tim mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya berinovasi merancang beton SCC dengan memanfaatkan limbah kelapa sawit.

Tim yang bernama WcFlurry ini memilih abu pembakaran dari limbah kelapa sawit atau Palm Oil Fuel Ash (POFA) sebagai material pengganti semen. Menurut salah satu anggota tim, Cita Nanda Kusuma Negari, selama ini pemanfaatan POFA masih minim dan belum terkelola dengan baik.

Selain itu, dijelaskannya, POFA menjadi masalah bagi industri kelapa sawit karena memerlukan lahan pembuangan yang luas dan jumlahnya yang terus meningkat. “Jadi, kami ingin mengangkat konsep sustainable atau keberlanjutan dari poin-poin tersebut,” ungkap mahasiswa Departemen Teknik Sipil ini.

Cita memaparkan, POFA terlebih dahulu harus disaring sampai lolos ayakan nomor 325. Tujuannya, agar ukuran partikel dapat terkontrol sesuai dengan ukuran semen sehingga bisa reaktif.

“Apabila ukuran partikelnya lebih besar dari ukuran semen, POFA ini hanya akan bekerja sebagai filler atau bahan pengisi, bukan sebagai binder atau pengikat,” imbuhnya.

Lebih lanjut, ia menyampaikan, POFA sebagai substitusi semen memiliki kandungan pozolanik seperti silika, alumina, dan besi yang tinggi. Kandungan tersebut berguna untuk membantu reaksi hidrasi sekunder yang dapat meningkatkan kekuatan beton.

“Pozolannya lebih dari 70 persen sehingga sudah sesuai dengan Standar Nasional Indonesia (SNI),” terang mahasiswa angkatan 2017 ini.

Beton SCC buatan tim bimbingan Ir Faimun MSc PhD dan Prof Tavio ST MT PhD ini juga melewati proses uji slump flow, L-Box, dan compressive strength. Uji slump flow dan L-Box ini berfungsi untuk mengetahui kelecakan (workability) dari campuran beton segar guna menentukkan tingkat kemampuan kerjanya. Sedangkan compressive strength atau uji tekan berfungsi untuk menguji kekuatan materialnya.

Dari hasil uji slump flow-nya menunjukkan nilai 685 milimeter, sehingga lolos standar The European Federation of Specialist Construction Chemicals and Concrete Systems (EFNARC) sebesar 500 milimeter. Sedangkan untuk compressive strength-nya mendapat nilai rata-rata 26 megapascal.

Dalam penelitiannya, Cita menceritakan bahwa timnya yang terdiri dari Agus Bastian dan David Gideon harus berulang kali melakukan trial and error untuk mendapatkan hasil yang sesuai dengan target. Dengan hasil inovasinya tersebut, tim ini pun telah berhasil menyabet juara ketiga dalam ajang International Concrete Competition (ICC) 2018 di Universitas Sebelas Maret (UNS), beberapa waktu lalu.

“Harapan ke depannya semoga lebih maksimal lagi pada kompetisi selanjutnya,” pungkas Cita.(wh)

 

Marketing Analysis 2018