Lima Sektor yang Jadi Fokus Pemerintah dalam Industri 4.0

Lima Sektor yang Jadi Fokus Pemerintah dalam Industri 4.0

Alfina Wijanarno dan Kresnayana Yahya. foto: arya wiraraja/enciety.co

Ada lima sektor yang menjadi fokus pemerintah dalam Industri 4.0. Yaitu, food & beverage, otomotif, tekstil, chemical, dan elektronik. Hal itu disampaikan Alfina Wijanarno, PMP Strategic Account Management, Rockwell Automation Surabaya Branch Director, Project Management Institute Indonesia Chapter, dalam acara Perspective Dialogue Radio Suara Surabaya, Jumat (6/3/2020). Acara ini dipandu Chairperson Enciety Business Consult Kresnayana Yahya,

Alfian mengatakan, era Industri 4.0 memunculkan keresahan masyarakat. Jika semua pekerjaan dilakukan oleh mesin secara otomatis. Hal ini bakal memersempit pekerjaan yang dilakukan manusia.

“Sebenarnya tak perlu khawatir. Fungsi manusia ke depan adalah untuk developer pekerjaan yang dilakukan mesin. Dengan kata lain, pekerjaan manusia jadi naik derajat. Tenaga manusia lebih dibutuhkan di sektor strategis,” ujar Alfian.

Kata dia, manusia bisa memikirkan desain mesin yang maksimal. Berpikir bagaimana pekerjaan mesin di sektor progres produksi. Juga melakukan analisa perkembangan pekerjaan dan lain sebagainya.

Di pekerjaan level bawah yang dapat dilakukan manusia adalah memaksimalkan fungsi mesin secara maksimal. Artinya manusia akan meninggalkan pekerjaan yang membutuhkan banyak tenaga menjadi membutuhkan banyak fikiran dan kreativitas.

“Di kelas bawah, tenaga kerja manusia dapat mengembangkan keahliannya dalam mengoperasionalkan mesin. Jadi tantangan bagi para Human Resource Development (HRD) ini adalah bagaimana memaksimalkan peran tenaga kerja manusia. Jadi, tidak perlu ada Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) yang nantinya butuh biaya sosial lebih besar,” tegas dia.

Dalam Industri 4.0 segala hal bakal dioperasionalkan oleh mesin. Untuk itu, maintenance sangat penting dilakukan untuk memastikan mesin-mesin tersebut dapat beroperasi dengan baik.

Pun, kata Alfian, kualitas mesin juga harus diperhatian. Artinya, sampai saat ini, mesin bagus yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Untuk itu, pengusaha harus menyiapkan spare part atau suku cadang.

“Berbicara maintenance, kita juga harus cermat. Jika pengusaha memilih mesin murah, maintenance juga harus lebih sering. Jangan sampai biaya maintenance bisa lebih mahal ketimbang mesin yang digunakan. Memang ada mesin yang murah dengan ekonomi yang rendah, namun jarang,” ujar dia. (wh)