Lima Kiat Menata Sekolah Bermutu

Lima Kiat Menata Sekolah Bermutu

*) Dr Muhammad Sholihin

Hari-hari ini, saya banyak menerima pertanyaan dari kawan-kawan guru. Mereka meminta pendapat dan masukan terkait membangun sekolah dan pendidikan yang berkualitas. Tentu, ini menjadi tantangan tersendiri bagi saya. Paling tidak, berbagi pengalaman selama bertahun-tahun berkecimpung di dunia pendidikan.

Saya sampaikan kepada kawan-kawan tersebut jika jawaban saya berdasarkan pengalaman. Mungkin situasinya sudah berubah. Mungkin juga tidak bisa diterapakan di semua tempat. Berikut, ada beberapa hal yang harus diperhatikan:

Pertama, kepala sekolah harus menjadi motor perubahan. Perubahan di sekolah hanya bisa dilakukan oleh kepala sekolah. Jika kepala sekolah kreatif, aktif, banyak ide dan gagasan, sekolah akan cepat mengalami kemajuan. Begitu juga sebaliknya. Budaya masyarakat kita masih paternalistik. Ketergantungan terhadap atasan sangat tinggi. Jika atasan tidak bergerak, bawahan akan diam.

Namun sebaliknya, jika  kepala sekolah tidak punya ide dan gagasan, perubahan tidak akan terjadi. Oleh karena itu, kepala sekolah harus memiliki kelebihan tenaga, pikiran, waktu dan ide-ide segar. Dan mampu bekerja selama 25 jam per hari! Sehingga menjadi sumber inspirasi bagi orang-orang yang dipimpinannya.

Pengalaman saya, kebanyakan bawahan lebih senang mempunyai pimpinan yang mampu membuat konsep dan menerapkannya. Mereka bisa jadi jaminan kedekatan dengan bawahannya.

Kedua, tingkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM). Sekolah harus menyadari bahwa SDM merupakan aset yang sangat penting dan tidak bisa terbarukan. Jika mereka tidak kita berdayakan dengan baik, kemajuan sulit diwujudkan.

SDM biasanya lebih senang jika dilibatkan untuk memikirkan kemajuan sekolah. Apalagi mereka diberi kesempatan untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang muncul di sekolah. Merencanakan, mengorganisasikan, melaksanakan dan memgevaluasi semua kegiatan di sekolah.

Nah, untuk mengukur komitmen seseorang kepada organisasi, berilah mereka tanggung jawab. Jika mereka bisa amanah, mereka bisa dipastikan memiliki komitmen tinggi.

Sebenarnya, orang bekerja itu tidak cukup diberi gaji tinggi. Mereka juga butuh pengakuan dan eksistensi dari orang-orang di sekelilingnya. Apalagi dari atasannya. Karena itu, pimpinan harus mampu mendistribusikan kekuatannya dengan baik. Kekuasaan itu jangan hanya menumpuk pada pimpinan. Distribusikan kepada yang lainnya (distribution of leadership).

Ketiga, tata manajemen sekolah. Banyak sekolah yang kurang menguasai masalah manajemen. Secara umum, manajemen itu menyangkut perencanaan, penataan, pelaksanaan dan evaluasi.

Sering kegiatan sekolah tidak memenuhi kriteria tersebut. Sehingga kegiatan itu berjalan sebagai rutinitas. Tidak sesuai target yang diinginkan. Padahal rutinitas itu dapat menghilangkan kreativitas dan menghilangkan produktivitas. Pada gilirannya akan mempertaruhkan kualitas sekolah.

Marketing Analysis 2018