Kurikulum Pendidikan dalam Keluarga

Kurikulum Pendidikan dalam Keluarga

Kresnayana Yahya, Chairperson Enciety Business Consult, dalam acara Perspective Dialogue di Radio Suara Surabaya, Jumat (27/5/2016), foto: arya wiraraja/enciety.co

Hingga kini, kebanyakan orang tua kurang peduli terhadap perkembangan anak. Mereka menganggap ketika anak sudah disekolahkan, anak telah mendapat pendidikan yang layak. Padahal, kita masih dihadapkan realita, dimana anak belum siap menyikapi radius pergaulan yang makin luas. Ini seiring dengan bebasnya informasi yang didapatkan anak.

Karena itu, orang tua semestinya bisa mengawasi perkembangan psikososial anak. Sebagai orang tua kita tidak hanya dapat memastikan pendidikan formal, namun juga pendidikan informal di luar sekolah. Di antaranya pendidikan moral dan sosial.

Pendidikan moral dan sosial tersebut perlu didapatkan anak melalui learning by doing. Dalam arti, sebagai orang tua kita harus mencontohkan hal-hal positif pada anak. Karena kita tidak dapat memberikan mendidik anak dengan cara memberikan nasihat saja, terlebih memarahi sang anak. Karena, dengan memberikan contoh kepada anak, kita lebih dapat memberikan pendidikan informal yang baik.

Begitupun kita tak boleh membatasi anak untuk berkembang. Dalam proses perkembangan anak, peran orang tua sangatlah penting untuk mengarahkan dan memperkenalkan anak dengan hal-hal baru. Untuk itu, setiap orang tua harus mampu membuat semacam kurikulum pendidikan dalam keluarga. Karena dengan demikian, kita dapat memberikan pengertian kepada anak hal– hal apa saja yang dapat dilakukan dan yang melanggar batasan moral.

Perkembangan psikososial anak dipengaruhi oleh perkembangan informasi dan teknologi. Perlu dicermati, para orang tua kini dihadapkan perkembangan zaman berbeda dengan zaman dimana mereka dulu dibesarkan. Hal tersebut di antaranya dipengaruhi oleh makin berkembangnya informasi dan teknologi yang dibawa oleh gadget. Perkembangan informasi dan teknologi tersebut terbawa hingga ke dalam keluarga, sampai-sampai hal tersebut masuk hingga kedalam kehidupan pribadi anak.

Media belajar yang digunakan oleh anak-anak zaman dulu adalah buku, pensil dan lingkungan sekolah. Sekarang, dengan adanya perkembangan informasi dan teknologi, media belajar yang digunakan oleh anak beralih ke gadget. Seperti hand phone, tab, laptop dan lain sebagainya.

Lewat media belajar gadget, kita menghadapi percepatan pendidikan pada anak yang belum disiapkan. Tugas kita sebagai orang tua adalah bagaimana memberikan pembelajaran kepada anak, sehingga sang anak bukan hanya siap secara akademis, tapi juga siap secara psikososial ketika mereka terjun ke masyarakat.

Peran orang tua sangatlah penting untuk mengarahkan dan memperkenalkan anak dengan hal-hal baru. Hal ini dilakukan untuk membiasakan anak dapat bersosialisasi dan mampu menerima hal baru di dalam masyarakat.

Dalam pendidikan formal yang diterima anak di sekolah, kebanyakan mereka diajarkan harus mampu berpikir dan bersikap positif. Namun, kenyataan yang terjadi banyak hal negative  yang terjadi di sekitar mereka. Contohnya, maraknya pelecehan seksual yang dialami oleh anak-anak belakangan ini.

Maka, disinilah peran orang tua sangat dibutuhkan untuk dapat mengawasi dan mengarahkan perkembangan anak. Kita tidak dapat menyalahkan perkembangan informasi yang cepat, namun yang dapat kita lakukan adalah mempersiapkan anak-anak kita supaya mampu menyaring dan menyikapi keadaan yang terjadi secara tepat. (wh)

Marketing Analysis 2018