Kuras Tabungan Demi Bisnis Food Truck

Kuras Tabungan Demi Bisnis Food Truck

Ernest Fajar Diandaru dengan food truck-nya di Jalan Tunjungan Surabaya. foto: arya wiraraja/enciety.co

Bisnis food truck menjalar di Surabaya. Puluhan anak muda pun mencoba peruntungan dengan menjajakan berbagai usaha kuliner. Satu di antaranya Ernest Fajar Diandaru (27 tahun). Pria lulusan Fisip Unair ini membuka usaha food truck di Jalan Tunjungan.

Ernest mengaku tak punya rencana muluk dengan skema finansial yang njelimet kala memulai usaha. Dia hanya punya tekad kuat menjadi entrepreneur setelah merasa bosan bekerja salah satu perusahaan event organizer terkemuka di Tanah Air.

“Hampir satu tahun saya kerja setelah lulus kuliah. Setelah itu saya resign.   Saya ingin menekuni bisnis food truck,” ungkap Ernest Fajar Diandaru, saat ditemui enciety.co di Jalan Tunjungan Surabaya, Minggu (14/2/2016) malam.

Waktu itu, cerita dia, ada seorang teman yang mengajak mengembang usaha kuliner food truck. Usai berdiskusi, Ernest pun tertarik dan menyetujuinya. “Saya sangat tertarik dengan konsepnya karena terbilang baru di Kota Surabaya,” tutur Ernest.

Ernest kemudian berpikir modal awal. Kebetulan, ia punya tabungan yang sempat ia sisihkan selama menjadi pegawai di event organizer. Uang itu kemudian dia pakai untuk  memulai usahanya dengan memodifikasi mobil milik dia.

Kuras Tabungan Demi Bisnis Food Truck

“Awal tahun 2015, saya habiskan tabungan Rp 8 juta untuk memodifikasi mobil tua saya dan membeli bahan–bahan produk kuliner. Saat itu, saya sempat dimarahi orang tua. Namun Alhamdulillah, saat ini saya dapat membuktikan pilihan yang saya ambil tepat,” urai Ernest. Mobil milik Ernest yang dimodifikasi tersebut sedan Corollah, keluaran tahun 1991.

Ia mengimbuhkan, untuk memberi alat panggang ia harus rela mencopot perangkat audio di bagasi mobilnya. Selain itu, ia juga harus memastikan tegangan listrik dari aki mobilnya agar selalu ada dan dalam keadaan bagus.

Tepatnya pada pertengahan 2015, dia mulai berjualan roti bakar dengan konsep food truck di Jalan Tunjungan Surabaya. “Saat itu saya tidak serutin sekarang berjualan, terkadang seminggu sekali bahkan bisa dua minggu sekali,” ungkap dia.

Saban malam, ia mengaku mampu menjual 30 hingga 40 porsi roti bakar. “Di kawasan Tunjungan dagangan kami laku keras. Dengan jam operasional mulai pukul 19.00 WIB hingga 02.00 WIB, kami dapat menghasilkan omzet kurang lebih Rp 700 ribu,” jelas dia.

Ia menjelaskan, ada beberapa varian rasa roti bakar yang dia tawarkan. Di antaranya roti bakar rasa coklat, stroberry, kacang, dll. “Sekarang juga ada beberapa rasa baru, contohnya choco oreo, choco frappe, choco vanilla, stoberry vanilla, dan lain sebagainya,” urai dia.