Kresnayana: Potensi Hasil Laut Jatim Belum Dioptimalkan

Kresnayana: Potensi Hasil Laut Jatim Belum Dioptimalkan

Kepala Dinas Kelautan & Perikanan Jawa Timur Gunawan Saleh dan Kresnayana Yahya di Radio Suara Surabaya. foto: arya wiraraja/enciety.co

Potensi hasil laut Jawa Timur sangat berlimpah. Namun garis pantai Jawa Timur yang meliputi beberapa wilayah seperti Bondowoso, Banyuwangi, Tuban, Kepulauan Madura kenyataannya belum dimaksimalkan.

“Contohnya, jumlah konsumsi ikan masyarakat kita saja saat ini hanya sekitar 40 kilogram per orang per tahun. Padahal, jika dibandingkan Jepang yang wilayahnya juga negara perairan, jumlah konsumsi ikannya mencapai 125 kilogram per orang per tahun. Nah, jika potensi alam ini dimanfaatkan semaksimal mungkin, kebutuhan protein kita bakal tercukupi,” ungkap Chairperson Enciety Business Consult Kresnayana Yahya dalam acara Perspective Dialogue Radio Suara Surabaya, Jumat (18/1/2019).

Kenyataan ini, sambung Kresnayana, sangat dipengaruhi pola budaya konsumsi di masyarakat. Jika yang mengonsumsi ikan adalah masyarakat kelas bawah, itu pandangan yang keliru.

“Contohnya, jika kita makan ikan asin, berarti kita nggak punya uang. Padahal makanan itu selain enak juga banyak kandungan proteinnya,” tegas Bapak Statistika Indonesia itu.

Jika ditilik secara ekonomi, papar Kresnayana, saat ini harga daging ayam yang menjadi satu komoditas protein tidak jauh berbeda dengan harga ikan. Harga ayam sekitar Rp 35 ribu per kilogram. Harga ikan jumlahnya juga tidak jauh berbeda. Bahkan mungkin di bawah harga ayam.

“Namun, orang banyak memilih makan ayam karena sudah jadi budaya. Kalau ikan mungkin mereka bingung mengolahnya. Tapi, jika mereka mau beralih makan ikan sebagai asupan protein, bisa jadi tubuh mereka makin sehat,” tandas dosen statistika ITS itu

Dalam acara yang dihadiri Kepala Dinas Kelautan & Perikanan Jawa Timur Gunawan Saleh itu, Kresnayana memaparkan tantangan yang harus dibenahi industri perikanan adalah menambah jumlah pengusaha ikan.

“Bidang usaha ini sampai saat ini hanya dikuasai segelintir orang saja. Nah, jika jumlah pengusaha makin banyak, ketersediaan pasokan bagi masyarakat ini makin bertambah. Jika makin banyak pengusahanya, kita dapat mengoptimalkan potensi hasil laut yang kita punya,” ulas Kresnayana.

Dia lalu menyoroti produktivitas komoditas ikan patin yang sangat potensial di industri perikanan dalam negeri. Ia menyebut, pascaditerbitkannya larangan impor dari pemerintah, tingkat produktivitas komoditas ikan patin makin meroket.

“Contohnya untuk supply bahan makanan jamaah haji di Arab, ternyata komoditas ikan patin asal Indonesia. Di sana ikan kita diakui kelezatannya. Dibilang ikan patin kita jauh lebih gurih, lebih lunak dan kandungan proteinnya juga lebih bagus,” papar Kresnayana.

Lewat contoh tersebut, Kresnayana kembali mengingatkan, potensi hasil laut masih butuh sentuhan dan keseriusan banyak pihak jika ingin dioptimalkan.

“Jadi tidak hanya pemerintah, para pengusaha dan masyarakat juga harus bisa memperhatikan hal ini,” terangnya. (wh)

Marketing Analysis 2018