Kresnayana: Pendidikan Tak Mengajarkan Kompetisi

Kresnayana: Pendidikan Tak Mengenal Kompetisi

Kresnayana Yahya. foto: arya wiraraja/enciety.co

Pakar Statistika ITS Kresnayana Yahya menegaskan, banyak masyarakat masih memiliki persepsi keliru terkait dunia pendidikan. Salah satunya terkait masalah kompetisi dan kompetensi.

“Banyak anak patah hati dan rusak hati akibat dibanding-banding dengan kawannya, kakaknya, adiknya dan orang-orang sekitarnya. Padahal, dalam konsep pendidikan tidak mengajarkan kompetisi,“ ujar dia dalam acara Forum Perangkat Daerah Bidang Pendidikan. Penyampaian Raker Dinas Pendidikan Kota Surabaya yang diadakan di Aula Ki Hajar Dewantara, Gedung Dinas Pendidikan Kota Surabaya, Jalan Jagir Wonokromo, Selasa (26/2/2019). 

Kresnayana menuturkan, sampai saat ini masih banyak orang tua yang menilai anak hanya dengan tingginya nilai ujian. Padahal, ukuran keberhasilan dari sebuah pendidikan itu bukan nilai ujian.

Menurut dia, setiap anak punya multiple intelligences. Di mana setiap anak punya kelebihan masing-masing, fungsi dari pendidikan ini membuat anak bisa memanfaatkan kelebihannya tersebut dengan maksimal.

“Di era digital yang diajarkan di sekolah hanya sebatas passive learning. Sedangkan untuk active learning harus didesain bersama dengan orang tua, guru dan lingkungan tumbuh kembang dari anak tersebut,” tandas pria yang mendapat julukan Bapak Statistika Indonesia itu.

Kresnayana lalu menjelaskan, pendidikan sangat dipengaruhi  perkembangan dunia yang mengarah pada Society 5.0. Di mana masyarakat dalam era tersebut lebih bijak dan cerdas dalam memanfaatkan perkembangan teknologi. Ke depan, dunia pendidikan harus berkembang. Sasarannya harus lebih luas. Karena pilihan lapangan kerja bagi masyarakat tidak hanya sebatas pegawai negeri dan pegawai swasta saja.

“Di masa depan, ada lapangan pekerjaan yang dikenal dengan pegawai mandiri atau yang sekarang dikenal dengan nama pekerjaan kreatif,” papar Chairperson Enciety Business Consult ini.

“Contohnya Atta Halilintar. Kreator Youtube. Sekolahnya homeschooling. Namun penghasilannya dalam sebulan setara dengan gaji Kepala Dinas Pendidikan selama bertahun-tahun. Dia dapat uang ratusan juta dari konten-konten yang dia buat. Subscribers sudah jutaan di Youtube,” terang Kresnayana.

Lewat contoh tersebut, Kresnayana ingin mengingatkan para orang tua murid, guru dan kepala sekolah yang hadir supaya tidak membatasi cita-cita anak. Dulu banyak orang bekerja di dalam kantor. Namun belakangan, banyak orang yang mulai bekerja di dalam dunia digital.

Kata dia. Yang harus dilakukan orang tua saat ini adalah menyadarkan anak-anaknya, jika pekerjaan yang baik itu bukan bekerja untuk bos atau atasan di kantor. Pekerjaan yang paling baik adalah pekerjaan yang dilakukan untuk kebaikan society.

Kresnayana: Pendidikan Tak Mengenal Kompetisi

“Jadi, anak jangan lagi diarahkan untuk berpikir untuk jadi dokter, insinyur, akuntan, pegawai negeri dan lain sebagainya. Jangan menuntut anak untuk bisa mencapai cita-cita orang tuanya. Mereka ini punya cita-cita sendiri sesuai dengan zaman yang sekarang mereka lalui,” tegas Kresnayana.

Di 2019, imbuh Kresnayana, diperkirakan 80 persen internet traffic dihabiskan untuk membuka konten video. Hal ini menyebabkan para murid menjadi bosan ketika melihat gurunya mengajar di depan kelas. Sentra pendidikan tidak lagi hanya berada dalam di dalam kelas.

“Di sekolah, di dalam kelas, yang dipelajari anak-anak itu harusnya belajar bagaimana caranya belajar, learn how to learn. Bukan hanya materi yang diajarkan sebanyak-banyaknya, melainkan anak dirangsang untuk belajar dan mendapatkan ilmu pengetahuan. Kalau semua materi diajarkan dalam kelas, ya jelas waktunya tidak cukup dan tidak efektif,” papar dia.(wh)