Kresnayana: Konsumsi Protein Masyarakat Kita Masih Di Bawah Vietnam

Kresnayana: Konsumsi Protein Masyarakat Kita Masih Di Bawah Vietnam

drh. Priastoetie, drh. Heri Setiawan, dan Kresnayana Yahya.foto:arya wiraraja/enciety.co

Komsumsi protein masyarakat sekarang makin meningkat. Jika dilihat dari angka rata-rata konsumsi yang nilai mencapai 6 kilogram per orang per tahun, kini bisa meningkat 6,5 sampai 7 kilogram per orang per tahun. Di beberapa daerah seperti Jawa Barat, DKI Jakarta, Banten dan Bangka Belitung, pola konsumsi masyarakat sudah di atas rata-rata nilai konsumsi protein per orang per tahun.

“Jika dibandingkan Vietnam yang sama-sama negara Asia Tenggara, konsumsinya bisa mencapai 10 kilogram per orang per tahun. Maka, kesadaran akan pentingnya pasokan protein masyarakat negara kita ini masih sangat kurang,” ujar Chairpeson Enciety Business Consult Kresnayana Yahya, dalam acara Perspective Dialogue Radio Suara Surabaya bertajuk “Tantangan Supply dan Stabilitas Harga Daging Unggas dan Telur dalam Ramadan & Idul Fitri”, Jumat (10/5/2019).

Hadir sebagai pembicara, Ketua Masyarakat Peduli Gizi (MPG) Jatim drh. Priastoetie dan Public Relation Manager PT Wonokoyo Jaya Corporindo drh. Heri Setiawan.  

Menurut Kresnayana, sepuluh tahun lalu, peta konsumsi protein terbesar di Jatim didominasi wilayah Surabaya, Gresik, Sidoarjo dan Magetan. Namun saat ini, pola konsumsi protein di Jatim makin merata. Khususnya di beberapa wilayah yang terkenal sebagai pusat industri seperti Pasuruan.

“Jika dilihat dari pengeluaran bulanan, kita tahu masyarakat dengan pengeluaran lebih besar yang rata-rata dapat mengonsumsi protein. Masyarakat tersebut rata-rata mengeluarkan Rp 500-750 ribu per orang per bulan untuk belanja protein,” terang Bapak Statistika Indonesia itu.

Sementara, Heri Setiawan, Public Relation Manager PT Wonokoyo Jaya Corporindo, mengatakan pada bulan Ramadan 2019 diharapkan masyarakat dapat memulai dan membiasakan diri mengganti makanan dari yang cenderung banyak karbohidrat dengan makanan berprotein.

Menururt dia, ada dua hal yang mempengaruhi masyarakat mengonsumsi makanan mengandung protein. Pertama, kemampuan yang kaitan erat dengan daya beli. Kedua, kemauan yang dapat diartikan sebagai prioritas masyarakat membeli makanan yang mengandung protein.

“Umumnya masyarakat saat ini belum terlalu sensitif dengan kualitas makanan,” tegas Heri.

Dia juga mengatakan, sampai saat ini masih banyak masyarakat yang dikenal berpikiran “pokoknya kenyang”. Padahal, supaya kualitas hidup ini makin meningkat, kualitas makanan yang dikonsumsi juga harus berubah.

“Untuk itu, jika kita dapat meningkatkan jumlah pasokan protein, secara otomatis kualitas hidup kita juga bakal makin tinggi dan asupan gizi bakal meningkat,” terangnya. (wh)

Berikan komentar disini