Kresnayana: Dorong Kapasitas Bisnis dengan Teknologi dan Networking

Kresnayana: Dorong Kapasitas Bisnis dengan Teknologi dan Networking
Chairperson Enciety Business and Consult (EBC) Kresnayana Yahya saat bicara di Prespective Dialogue di Suara Surabaya, Jumat (24/10/2014).

Di tengah gempuran pasar bebas yang sebentar lagi dibuka dengan ditandainya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015, membuat pelaku bisnis di Indonesia diharapkan pasang badan. Di antaranya dengan mendorong pengembangan kapasitas bisnis menggunakan teknologi dan networking.

Chairperson Enciety Business and Consult (EBC) Kresnayana Yahya mengatakan, bisnis yang masih bertahan dengan cara konvensional akan mudah bangkrut. Ini karena, pada MEA 2015 mendatang, seluruh pengusaha dari berbagai negara di ASEAN akan bersaing dengan memanfaatkan kemajuan teknologi dan kekuatan jaringan komunikasi.

“Nanti mereka (pengusaha di ASEAN) yang masuk ke Surabaya sudah digital ekonomi. Bahkan ada yang sudah knowledge economy,” kata Kresnayana saat bicara di Prespective Dialogue di Radio Suara Surabaya, Jumat (24/10/2014).

Kresnayana mencontohkan, sebuah perusahaan impor mesin-mesin luar negeri di Surabaya sekarang mengalami pertumbuhan pesat. “Bapaknya masih tradisonal, tiba-tiba anaknya mau mencoba evaluasi perusahaan ini. Ini karena, perusahaan ini bisa jualan banyak sekali tapi ternyata angka kehilangan sangat banyak,” ceritanya.

Gudang penyimpanan mesin itu, diceritakan Kresnayana, tidak tersistem dan pencatatannya tidak digital. Hal ini mengakibatkan mesin mahal tidak terjual, sedangkan mesin murah saja yang terjual.

“Ternyata karena catatannya ketlingsut. Perusahaan tersebut inventory-nya mandeg. Setelah dibenahi anaknya, sekarang gudangnya tidak penuh, dia tidak akan impor kalu tidak butuh barang. Padahal anaknya baru satu setengah tahun membantu ayahnya tapi perusahaan itu mengalami kenaikan profit hingga 60 persen,” tambahnya.

Artinya jika ekonomi tradisional didorong untuk masuk dan menggunakan teknologi dan network ekonomi, maka perusahaan tersebut akan survive. Sebaliknya, jika perusahaan tersebut masih berdiri sendiri dan tidak terhubung dengan jaringan, maka akan sangat berisiko untuk bangkrut.

“Padahal di Singapura itu 100 persen penduduknya sudah punya memasukan bisnisnya ke lembaga keuangan. Betapa efisiennya uang dikelola dan transaksi dipetakan. Sedangkan kita baru 23 persen penduduk yang baru punya acount di lembaga keuangan. Ini menunjukan sebuah kegamangan kalau MEA menghampiri, kita didorong untuk setara dengan mereka,” khawatirnya.

Menurut dosen statistika ITS Surabaya ini, bisnis yang butuh kemajuan teknologi dan jaringan masih belum bisa dirasakan di Surabaya.

“Keterbukaan informasi di sini masih minim. Kalau cari informasi tentang retail di Surabaya masih sangat susah sekali. Misalnya ada perusahaan asing, data retail store di Surabaya kita tidak tahu. pemkot juga tidak tahu,” jelasnya.

Padahal, terang Kresnayana, hambatan informasi ini bisa menjadi penghambat para retailer dalam negeri untuk mempersiapkan diri untuk bergabung dengan jaringan yang besar.

“Kalau diomongkan secara sederhana, orang kita masih nyaman dengan ekonomi tradisional. Beberapa waktu yang lalu saya memberi seminar di sebuah forum bisnis. Saya prediksikan pertumbuhan ekonomi mencapai 5-6 persen. Ternyata ada yang bilang bahwa bisnis retailnya meningkat 10 persen berarti lebih banyak,” ceritanya. Bahkan, pengusaha lainnya bahkan mengaku mengalami kenaikan bisnis retailnya hingga 23 persen.

Namun, Kresnayana justru mempertayakan karena keuntungannya digunakan untuk sebagaian besar kebutuhan produksi yang terus naik.

“Padahal bisnisnya sektor retail yang tumbuh pesat, dia tumbuh 23 persen masih megap-megap karena untuk menutup ongkos. Diakuinya harus butuh kenaikan minimal 27 persen keuntungan untuk bisa menutup perputaran ongkos operasional,” jelas dia.

Sedangkan untuk knowledge economy, Kresnayana mencontohkan banyak ibu rumah tangga yang masih belum tahu tentang fungsi garam. Menurutnya banyak ibu rumah tangga yang tidak bisa membedakan antara garam beryodium atau tidak. Selain itu banyak yang membubukan garam ke sayur yang masih mendidih.

“Padahal kita sangat membutuhkan youdium tapi kita jarang tahu mana garam beryodium atau tidak. Selain itu, banyak ibu rumah tangga dan penjual makanan pinggir jalan yang memasukkan garam saat sayur masih mendidih, itu membuat yodium dalam garam menguap. Inilah yang saya maksud sebagai knowledge economy,” bebernya. (wh)

 

Marketing Analysis 2018