Kontroversi Perubahan Nama Jalan Dinoyo-Gunungsari

Kontroversi Perubahan Nama Jalan Dinoyo-Gunungsari

Oleh: Kuncarsono Prasetyo*

Saya harus menjelaskan kenapa kita perlu menolak rencana perubahan nama Jalan Dinoyo dan Jalan Gunungsari. Kedua jalan ini adalah bagian dari jaringan jalan antarkota tertua di Indonesia,

Dia ada sejak dua abad silam, melintas di nama desa-desa kecil di pinggiran Kalimas, Dia saksi sejarah, melekat di ingatan kolektif publik.

Jadi begini, pada 1809-1811, Gubernur Hindia Belanda Willem Herman Daendles membangun jalur pos yang menghubungkan Anyer – Panarukan. Nah saat menembus Surabaya, Jalan itu melalui desa Dinoyo. Sedangkan Gunungsari adalah percabangannya. Dua jalan ini satu rangkaian lho.

Lihat foto peta tua Surabaya tahun 1825 yang saya sertakan ini. Mari kita bayangkan rute jalur Daendles itu. Dari dalam kota kawasan Jembatan merah, jalur jalan kuno ini menuju selatan melewati Gemblongan, Toendjoengan, Kaliasin, Desa Kepoetran, Desa Groedo, Desa Ketampon, Desa Denojo (Dinoyo), Desa Darmo Redjo, Desa Pandjoenan (sekarang jadi Terminal Joyoboyo).

Nah dari sini jalan bercabang, satu melompat sungai ke arah selatan menuju Sidoarjo hingga finish di Panarukan, satu lagi menuju Sepanjang. Yang menuju Sepanjang jalan itu melewati Desa Tegalsarie, Desa Soeroenan, Desa Goenoeng Sarie, Desa Ngassem, Desa Djedjer Songo, terus ke arah Waru Gunung.


Lantas, sejak kapan Dinoyo dan Gunungsari ada? Tentu jauh sebelum jalan ini dibangun. Di Dinoyo ada makam keramat yang disebut Mbah Cagak Joyo Prawiro Dinoyo. Keturunanya masih banyak di daerah ini. Sosok Mbah Cagak Joyo dari mulut ke mulut diyakini adalah perwira perang masa akhir kerajaan Majapahit.

Masih satu rangkaian dengan sejarah Sunan Bungkul yang makamnya juga tidak jauh dari situ. Jika Ini benar, maka, Dinoyo sudah ada pada periode Sunan Ampel. Tahun 1400an. Soal ini, mari kita perdalam lagi. Sebab kelemahan sejarah nusantara memang miskin literatur.

Nama Dinoyo dikenal heroik pada perang 10 November. Di Jalan Dinoyo. Ya Jalan Dinoyo, pada sejumlah catatan perang, termasuk penuturan sejarahwan Pieter A Rohi, menjelaskan pada 21 November 1945, Agen Polisi F Nainggolan dengan berani menurunkan bendera Jepang dan diganti merah putih.

Jepang marah, dan akan menurunkan merah putih, saat itu terjadi bentrok sengit dengan arek Dinoyo yang memagari bendera merah putih.

Heroisme di Jalan Gunungsari tidak kalah hebat. Daerah ini menjadi pertahanan terakhir pasukan republik. Melalui Jalan Gunungsarilah, Sekutu meringsek ke barat. Semua yakin jika Gunungsari jatuh, maka jatuhlah Surabaya. Ini tempat penentuan.

Puncaknya, perang sengit pada 28 November 1945, rakyat menyerbu dari bukit-bukit yang sekarang menjadi Yani Golf. Menghadang konvoi pasukan dari Wonokromo melewati Jalan Gunungsari.

Kontroversi Perubahan Nama Jalan Dinoyo-Gunungsari


Mari kembali melihat peta lawas, banyak nama desa yang sudah punah, namun ada yang terus bertahan dari gerusan jaman. Ya, Dinoyo dan Gunungsari itu lah dua nama yang bertahan sampai hari ini (di peta ditulis Denojo).

Sejak awal dibangun jalan tembus itu, Gubernur Hindia Belanda tidak pernah menamai dengan nama jalan Deandles atau nama Belanda lainnya. Ya, tetap Jalan Dinoyo dan Jalan Gunungsari. keren kaaan….

Nah, kalau sekarang nama jalan legendaris ini akan diganti justru oleh Gubernur sekarang, meskipun hanya sebagian ruas saja, tetap saja mengaburkan sejarah hebat republik ini. (*)

 

*Owner Sawoong Creative dan Manager Histovela

 

Marketing Analysis 2018

1 komentar di “Kontroversi Perubahan Nama Jalan Dinoyo-Gunungsari

  1. mmg sbaiknya jgn ganti nama jalan.jika tujuan ganti nama utk memperingati rekonsiliasi perang bubat,lbh baik buat tugu or patung or sejenisnya di taman.nanti tugu bserta tamannya dinamai Sunda,siliwangi,dll.jd tdk mnghilangkan sjarah jalan dn tsk mnyusahkan yg tinggal di sana

Komentar di tutup.