Konsumsi Masyarakat Naik, Tapi Belum Diikuti Supply yang Setara

Konsumsi Masyarakat Naik, Tapi Belum Diikuti Supply yang Setara

Chairperson Enciety Business Consult Kresnayana Yahya dalam acara Perspective Dialogue Radio Suara Surabaya, Jumat (27/7/2018). foto: arya wiraraja/enciety.co

Mulai dari tahun 2000 hingga tahun 2018, pola konsumsi masyarakat Indonesia naik sekitar 8 kali lipat. Di sisi lain, penyediaan bahan dan produk secara nasional hanya naik sekitar 3,5 kali lipat.

“Hal ini menjadi kendala, karena selama ini kita tidak dapat mengukur kebutuhan dan merumuskan langkah kebijakan apa yang kita butuhkan ke depan,” ujar Chairperson Enciety Business Consult Kresnayana Yahya, dalam acara Perspective Dialogue Radio Suara Surabaya, Jumat (27/7/2018).

Menurut Kresnayana, kendala yang dihadapi dunia industri nasional saat ini adalah tidak memiliki data yang valid. Para pengusaha di dunia industri cenderung masih berpatokan pada data-data lama yang belum di-update.

“Hal ini tidak dapat dianggap remeh. Karena dengan tidak adanya data yang valid, kita dapat mengukur segala sesuatu dan dapat mengambil langkah apa saja yang dibutuhkan untuk mengejar produktivitas sebanding,” jelas pakar statistik ITS Surabaya itu.

Dia lalu mencontohkan kebutuhan industri kertas nasional. Menurutnya,  produk kertas yang sekarang paling banyak dibutuhkan adalah kertas tisu dan kertas pembungkus makanan. Untuk kertas yang digunakan menulis sekarang jarang dibutuhkan karena sistem kerja sudah menggunakan data-data digital.

“Untuk memenuhi kebutuhan kertas tersebut, saat ini industri kertas kita menggunakan bahan-bahan dari pohon-pohon yang memiliki umur 8-10 tahun. Jadi industri kertas nasional tidak lagi butuh kertas yang dibuat dari bahan pohon yang berusia tua,” tegas Kresnayana.

Selain kertas, ada industri pertanian yang dijadikan contoh Kresnayana. Industri makanan yang diwakili bahan makanan beras itu kini juga sudah berubah.

Menurut dia, sampai saat ini cadangan beras nasional masih berpatok pada angka lama, yaitu 2-3 juta ton. Padahal, jika diukur dengan detail, saat ini Indonesia butuh cadangan beras antara 6-10 juta ton.

“Jika ada gangguan panen yang diakibatkan oleh perubaahan iklim maka ketersediaan beras ini sangat rentan,” tutur dia.

Lewat berbagai contoh tersebut, Kresnayana kembali mengingatkan jika peningkatan konsumsi masyarakat Indonesia masih belum diikuti supply yang setara.

“Saya hanya mengingatkan kepada masyarakat, jika saat ini banyak dari pengeluaran atau uang kita ini tersalurkan ke sektor-sektor yang kurang produktif. Untuk itu, kita musti berubah dan benahi itu,” terangnya. (wh)