Kisah Seru Pelaku Usaha yang Belajar Melek Keuangan

Kisah Seru Pelaku Usaha yang Belajar Melek Keuangan

Lucky Handayani, pelaku usaha anggota Pejuang Muda.foto:arya wiraraja/enciety.co

Pelaku usaha harus melek keuangan. Mereka harus tahu mengelola keuangan dengan baik. Karena dengan cara itu mereka akan mampu mengukur seberapa besar dan kapasitas usaha yang dijalankan.

Hal itu disampaikan Lucky Handayani, pelaku usaha anggota Pejuang Muda Surabaya. Perempuan yang memulai usaha dari nol ini, mengaku awalnya sering mengalami kebingungan lantaran tidak mengetahui manajemen keuangan.

“Barangnya terjual habis. Tapi setelah dihitung, lha kok uangnya tidak seperti perkiraan,” kata pemilik label Sambel Jeng Lucky kepada enciety.co, Kamis (28/11/2018).

Dia lalu bercerita, awal tahun 2017, pernah merasa mendapat untung gede dari jualan sambel. Produk sambal kemasannya laku hingga 10 ribu botol per hari.

“Waktu itu saya jual Rp 10 ribu per botol. Saya senang karena kebanyakan yang order dari luar kota. Ada dari Sidoarjo dan Gresik. Bahkan ada orang Surabaya yang membeli produk saya untuk dibawa ke Amerika,” ungkap perempuan berjilbab ini

Namun, imbuh Lucky, setelah menghitung pemasukan dan pengeluaran dalam laporan keuangan per enam bulan di akhir tahun 2017, ada selisih biaya cukup besar. Jumlah pemasukan dan pengeluaran untuk modal usaha setiap bulannya tidak seimbang.

Kisah Seru Pelaku Usaha yang Belajar Melek Keuangan

“Saya buat laporan keuangan saat itu karena untuk syarat ikut awarding. Saya benar-benar kaget setelah dihitung, saya tidak dapat untung, malah rugi hingga jutaan. Karena ternyata uang belanja bulanan saya ikut terpakai,” ujarnya, mengenang.

Lucky lantas berkonsultasi dengan mentor keuangan Pahlawan Ekonomi & Pejuang Muda. Namanya Doddi Madya Judanto. Dia seorang konsultan keuangan yang juga direktur utama Enciety Business Consult. Doddi juga dipercaya sebagai salah satu steering committee Pahlawan Ekonomi & Pejuang Muda.

“Saya banyak mendapat masukan. Wawasan saya semakin terbuka. Semisal, untuk komponen harga, saya diminta bukan hanya menghitung bahan, tapi juga beban listrik, air, transportasi, dan lainnya,” jabar dia.

Tak hanya itu, setelah melihat perkembangan usaha dan kondisi mutakhir, Lucky diminta menaikkan harga. Setelah dihitung, harga ditetapkan menjadi Rp 20 ribu per kemasan. Salah satu alasannya, produk Sambel Jeng Lucky di Sidoarjo oleh reseller dijual Rp 25 per kemasan.

Tiga bulan pertama di tahun 2018, Lucky menjual produknya dengan harga Rp 20 ribu. Saat itu dia mengaku penjualannya turun. Dia sempat rugi hingga jutaan rupiah. Hal itu dikarenakan para reseller kabur. Order dari media sosial juga tidak kelewat ramai. “Pernah dalam sebulan, produk saya hanya laku lima botol,” katanya.

“Saya sempat berpikir, apa mungkin masukan dari Pak Doddi yang menyuruh saya menaikkan harga ini salah. Saya sempat protes pada beliau. Namun tanggapannya santai. Saat itu beliau bilang, coba ditunggu saja 3-4 bulan sambil terus meningkatkan pemasaran baik online maupun offline,” timpal Lucky.

Benar saja, setelah lima bulan , produk sambal miliknya mulai ramai lagi. Para langganan lama dan reseller yang dulunya lari mulai datang lagi. Saat ini ia mengaku dalam sehari order yang datang rata-rata 250-300 botol. Jadi, rata-rata dalam sehari ia mampu mengumpulkan omzet Rp 5-6 juta.

“Alhamdulillah, berkat pengalaman saya itu sekarang saya mulai bangkit. Lewat pelajaran keuangan yang saya dapat sekarang saya bisa beli ruko kecil-kecilan di daerah Sambikerep . Saya sangat bersyukur,” pungkas dia, lantas tersenyum. (wh)

Marketing Analysis 2018

Berikan komentar disini