Kiat Mengembangkan Diri dengan Inner Motivation

Kiat Mengembangkan Diri dengan Inner Motivation

Kresnayana Yahya.foto:arya wiraraja/enciety.co

Pendidikan jangan dimaknai hanya dari sekolah. Setiap orang wajib punya mimpi, imajinasi, dan bersikap terbuka dengan keadaan saat ini. Jika hal tersebut dapat dilakukan, mereka akan dapat berkembang dan sukses.

Menurut Chairperson Enciety Business Consult Kresnayana Yahya, ada empat hal yang menjadi kekuatan seseorang untuk dapat berkembang yang dikenal dengan inner motivation. Pertama, read to learn. Kedua, visualize to capture. Ketiga, listen to a deep. Keempat, ask to understand.

“Siapa yang membaca, dia bisa melebihi apa yang ada hari ini. Dari melihat kita bisa membayangkan perkembangan yang terjadi ke depan. Dari mendengar, kita bisa mengadaptasi atau mengolah perkembangan tersebut. Lalu yang terakhir berani untuk bertanya. Dengan bertanya kita tahu banyak referensi arah untuk mencari hal-hal baru,” urai Kresnayana Yahya, dalam acara Perspektif Dialogue Radio Suara Surabaya, Jumat (26/4/2019).

Kresnayana lantas menegaskan, kesuksesan orang tak bisa diukur dari timgginya nilai yang didapat di sekolah. “Banyak orang yang cuma lulusan SMP atau SMA tapi karir atau usahanya moncer. Bahkan punya pegawai dari lulusan pendidikan S1 dan S2,” tandas dia.

Kresnayana juga menyoroti peran orang tuan. Kata dia, tugas orang tua saat ini adalah mendorong anaknya supaya tidak tertekan dengan keadaan. “Jangan sampai orang tua menekan dengan mengutarakan ujaran kebencian. Contohnya, kalau kamu tidak sekolah benar-benar, ke depannya kamu bisa jadi tukang tambal ban. Ungkapan seperti ini tidak layak diucapkan kepada anak-anak, karena dapat melemahkan semangat dan mental mereka,” beber Bapak Statistika Indonesia itu.

Menurut dia, sampai saat ini banyak orang tua yang berpatok pada satu kata yakni “dulu”. Padahal, hal itu sangat keliru. “Banyak program wajib belajar yang digagas dengan pendekatan yang kurang bagus. Menilai orang dengan kondisi dulu dengan hari ini. Itu tidak boleh, karena dapat merusak hak orang untuk berpikir dan berkembang,” ucapnya.

Dalam prinsip ilmu statistika, sambung dia, ada yang dikenal dengan predictive analytics. Prinsip ini digunakan untuk memprediksi semua pekerjaan yang dapat digantikan oleh aplikasi dan mesin. Hampir semua masyarakat berusia di atas 35 tahun telah terjebak dengan rutinitas pekerjaan. Di zaman yang makin maju seperti sekarang, hal ini sangat buruk.

“70 persen pekerjaan kita sekarang itu harus dilakukan untuk mempersiapkan masa depan, dan 30 persen untuk mengevaluasi pekerjaan yang telah kita lakukan. Saat ini banyak orang yang terbalik, sehingga mereka terlalu nyaman dengan rutinitas kerja tanpa mempersiapkan masa depan,” pungkas Kresnayana.(wh)