Kiat Jitu Memenangi Persaingan Bisnis di Tahun Politik

Kiat Jitu Memenangi Persaingan Bisnis di Tahun Politik

Renungan dan tasyarakuran keluarga Enciety Business Consult. foto: arya wiraraja/enciety.co

Tahun 2019 harus disikapi dengan optimisme tinggi. Pasalnya, banyak peluang dan kesempatan emas yang bisa dimanfaatkan untuk meraih kesuksesan.     

Hal itu mengemuka dalam acara renungan dan tasyakuran jelang akhir tahun keluarga Enciety Business Consult (EBC) yang berlangsung di Manyar Tirtoyoso Utara, Surabaya, Senin (31/12/2018).

“Saat ini, 60 persen orang Indonesia berusia di bawah 35 tahun. Kita dapat menyimpulkan jika cara lama mulai tergantikan. Teknologi menjadi kunci perubahan. Karena mereka yang berada di usia tersebut adalah pengguna teknologi,” ujar Chairperson EBC Kresnayana Yahya.

Kata dia, untuk dapat mengimbangi perubahan zaman ada dua hal, yakni, keberanian berinovasi dan mewujudkan ide kreatif. “Jika kita tidak dapat menjalankan hal itu, mau tidak mau posisi kita bakal digantikan. Terlebih tenaga kerja dari luar negeri,” tandas pria yang mendapat julukan Bapak Statistika Indonesia itu.

Menurut Kresnayana, negara-negara seperti China, Thailand, dan Vietnam memiliki tenaga kerja ahli cukup banyak. Dia lalu menyebut kurun beberapa tahun terakhir, Indonesia dibanjiri wisatawan mancanegara. Namun hal itu bisa jadi pisau bermata dua.

“Jangan senang jika banyak turis asing masuk Indonesia. Mereka datang tidak dengan tangan kosong. Mereka itu juga bawa barang. Jadi kalau penerbangan masuk dan orangnya sedikit, yang dibawa itu barang. Jadi hal ini perlu diwaspadai,” tegas dia.

Sementara, General Manager EBC Don Rozano mengatakan, hampir 90 persen masyarakat Indonesia sekarang percaya survei online.

“Ini tanda jika sudah saatnya kita mengganti cara lama, yang dulunya menggunakan kertas, beralih ke survei digital,” papar dia.

Don juga menyampaikan tiga hal agar bisa sukses memenangi persaingan. Pertama, memahami konteks. Dengan menguasai konteks materinya akan dapat menyakinkan customer.

Kedua, menguasai storytelling. “Selama ini kita hanya presentasi data, tapi lupa seni presentasi itu. Poin pentingnya, bagaimana kita bercerita dan menyampaikan data yang kita miliki sehingga customer tidak jenuh. Ingat, waktu presentasi efektif itu lima menit pertama,” papar dia.

Ketiga, melihat opportunity (peluang). Menurut dia, opportunity bukan datang dengan sendiri, tapi harus dikejar. ” Kalau dicari nggak ketemu, peluang harus dibuat. Kita harus kreatif dan inovatif,” paparnya.

Don mengaku pernah bertemu salah satu orang terkaya di Indonesia. Dia bilang jika Indonesia merupakan surganya jualan dan China surganya produksi.

“Kalau ingin berjualan sebaiknya kuasai pasar Indonesia dulu. Jangan jauh-jauh. Karena Indonesia ini pasar potensial. Itu telah dibuktikan banyak negara asing yang mau masuk ke sini,” cetus Don.

Don menambahkan, ada tiga produk dalam negeri yang bisa bersaing. Pertama, produk kuliner. Alasannya, tiap menu kuliner punya ciri khas.

“Kita punya banyak menu kuliner yang rasanya jauh lebih enak dan kualitasnya diakui dunia. Contohnya kecap. Kita itu punya dua jenis kecap. Satu kecap asin dan satu kecap manis. Padahal di Jepang, mereka hanya berani produksi kecap asin,” kupas Don.

Kedua, produk handicraft berbahan natural. Beberapa produk milik pelaku usaha Pahlawan Ekonomi laku dijual. “Contohnya Bu Nanik (Nanik Heri, Owner Bengkel Kriya Daun) dan Bu Wiwit (Wiwit Manfaati, Owner Witrov). Mereka punya produk handicraft dari bahan asli Indonesia yang sangat sulit ditiru,” papar Don.

Ketiga, produk home industry. Contoh produk Denil Pudding Surabaya dan Diah Cookies.  Mereka berdua ini punya ciri khas. Denil Pudding punya potensi produk yang bisa dikembangkan jadi franchise. Begitu juga Diah Cookies yang omzetnya makin tinggi tiap tahunnya.

Don meramalkan tahun 2019 banyak pihak bakal mengurangi kegiatan survei dan memperbayak training. Untuk menyikapi, dia menyarankan memperbanyak dan memperdalam kliping dan analisis data.

“Ingat, kuncinya disiplin, detail, dan perfectionist,” pungkas Don. (wh)

Marketing Analysis 2018