Kerja Keras + Menabung = Lambat Kaya

Kerja Keras + Menabung = Lambat Kaya

* Suwandono

*) Oleh : Suwandono

Banyak orang mengandalkan jurus kerja keras dan menabung untuk meraih tujuan hidup kaya. Dulu, saya juga mengamini jurus itu. Namun, lama-lama saya bosan karena tidak kunjung kaya juga. Setelah banyak belajar, saya sadar bila jurus itu tidak bisa diandalkan.

Menurut saya, gagasan kerja keras seumur hidup dan menabung dalam rekening bank adalah jurus kuno dan hanya cocok untuk orang yang ingin hidup aman di hari tua. Padahal, saya ingin pensiun usia muda dan kaya. Saya tidak ingin baru menjadi kaya di usia 60 atau 70 tahun. Warna-warni keindahan sebagai efek kaya pasti telah memudar di usia itu. Tak seindah bila kaya di usia yang belum menyentuh 50.

Saya yakin, banyak orang punya keinginan seperti itu. Namun, terjebak dalam metode/jurus yang kurang tepat. Sebagai ilustrasi : Seorang pegawai berusaha menyisihkan 5 % gajinya dalam tabungan. Ia menabung sejak umur 30 tahun. Karena nominal gajinya “biasa-biasa saja”, jumlah yang ditabung juga tidak besar. Bila tabungan itu tidak diambil sama sekali, ia baru bisa kaya di usia 70 tahun. Namun, ia tak leluasa menikmati kekayaannya itu karena sudah harus berurusan dengan berbagai macam hambatan usia.

Jika kerja keras dan menabung dianggap cara paling lambat untuk menjadi kaya, adakah cara yang lebih cepat? Kerja cerdas dan keras, serta melakukan investasi yang aman dan menguntungkan.

Bukankah menabung adalah suatu bentuk investasi? Ya, karena pihak bank memberi profit berupa bunga tabungan. Namun, menabung di bank bisa disebut sebagai bentuk investasi yang menyedihkan. Mengapa demikian? Karena tidak ada jaminan nilai uang tabungannya bisa berkembang.

Sebagai ilustrasi, bunga tabungan saat ini hanya berkisar 4 % per tahun. Itu pun masih harus dibebani pajak penghasilan. Jika hanya melihat bunga dan saldonya saja, memang tabungannya nampak berkembang karena jumlahnya bertambah. Namun, persoalannya menjadi lain ketika memperhitungkan angka inflasi (rata-rata kenaikan harga barang). Jika rata-rata inflasi 6 %, sebenarnya nilai tabungan tersebut tidak berkembang sama sekali. Bahkan bisa jadi berkurang nilainya karena inflasinya lebih tinggi dari bunga tabungan.

Oleh karenanya, melakukan investasi dalam bisnis riil menjadi pilihan yang tak dapat dihindari oleh orang-orang yang ingin kaya di usia muda. Menabung hanyalah sebagai batu loncatan untuk bisa berinvestasi. Menabung dulu sampai jumlah tertentu, lantas mengalokasikan sebagian dana tabungan itu untuk investasi.

Lho, bukankah investasi dalam bisnis itu beresiko gagal? Ya, memang selalu ada risiko. Oleh karenanya, bagi saya dan orang yang “nafas keuangannya” tak terlalu panjang, harus lebih njlimet dalam merumuskan rencana investasi. Kesalahan dalam berinvestasi bisa mengubur impian pensiun muda dan kaya.

Ada lima variabel yang harus dipertimbangkan dalam menyusun rencana investasi: biaya investasi, proyeksi pendapatan, risiko kegagalan, ilmu yang diperlukan, dan waktu.