Kenaikan BI Rate Goyahkan UKM

Kenaikan BI Rate Goyahkan UKMWakil Ketua Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin), Erwin Aksa, mengingatkan kebijakan Bank Indonesia menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 7,5 persen berpotensi memperlambat pertumbuhan ekonomi nasional dan menggoyahkan eksistensi usaha kecil dan menengah (UKM).

Erwin Aksa menegaskan, kenaikan BI Rate tersebut sebenarnya sangat mengejutkan bagi berbagai kalangan.

Peranan UKM terhadap perekonomian nasional tidak bisa dipandang sebelah mata. Pada 2012, kontribusi UKM bagi Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 57,5 persen (Rp1.451,4 triliun). UKM menyerap tenaga kerja sebanyak  97,2 persen (107 juta orang), sedangkan usaha besar hanya 2,8 persen

”Untuk itu Kadin mendorong agar pemerintah segera mengeluarkan paket kebijakan dunia usaha, khususnya untuk usaha kecil dan menengah,” katanya, belum lama ini.

Menurut dia, kenaikan BI rate membuka potensi lambatnya pertumbuhan ekonomi. Apalagi bila pasca kenaikkan BI rate tidak diiringi paket kebijakan yang efektif dan konkrit dari pemerintah.

Pemerintah patut menjaga momentum pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja. Caranya,  dengan mengeluarkan insentif fiskal dan menggairahkan UKM dan Koperasi.  Yang paling dikhawatirkan tentu saja ekonomi bisa melambat, ancaman pengangguran, belum lagi ada masalah perburuhan.

“Pendek kata, semua serba melambat. Makanya pasca kenaikkan BI rate ini, giliran pemerintah yang harus bekerja keras mengeluarkan kebijakan dan insentif supaya industri, utamanya UKM tidak terganggu agar tidak terjadi perumahan karyawan di sana-sini.”

Ditegaskan, pasca kenaikan BI rate justru menjadi momentum tepat bagi pemerintah untuk memberi perhatian penuh kepada pelaku UKM. Pada saat-saat krisis dan ekonomi nasional ada gangguan, UKM terbukti mampu menjadi bantalan ekonomi dan mempertahankan pertumbuhan ekonomi. (bisnis/bh)

Marketing Analysis 2018