Kemudahan di Dunia Digital Harus Disikapi dengan Bijak

Kemudahan di Dunia Digital Harus Disikapi dengan Bijak

Chairperson Enciety Business Consult Kresnayana Yahya, dalam acara Perspective Dialogue Radio Suara Surabaya, Jumat (23/3/2018).foto:arya wiraraja/enciety.co

Teknologi digital makin hari makin berkembang. Jika dulu banyak orang beranggapan dunia digital semacam perangkat yang ada di komputer, makin berkembang seiring dengan perkembangan teknologi yang kini disebut gadget.

“Dulu, kita harus melalui berbagai macam proses sehingga dapat mengakses dunia digital. Namun saat ini, hanya dengan satu sentuhan pada gadget kita dapat mengakses dunia digital dan mendapatkan semua kelebihan yang ada di sana,” cetus Chairperson Enciety Business Consult Kresnayana Yahya, dalam acara Perspective Dialogue Radio Suara Surabaya, Jumat (23/3/2018).

Kresnayana menjelaskan, dengan kemudahan-kemudahan di dunia digital tersebut, ada hal yang dibutuhkan masyarakat, yaitu pemahaman atau literasi digital. Contohnya, jika gadget kita dipakai anak kita, tanpa sadar anak tersebut mengakses aplikasi transaksi dan melakukan kegiatan transaksi dalam jumlah besar.

“Contoh ini memang sangat lucu, namun secara tidak sadar hal itu menggambarkan jika kita harus hati-hati dalam mengakses dunia digital,” kupas pakar statistic ITS tersebut.

Untuk memahami konsep literasi digital, sambung Kresnayana, dibutuhkan sikap bijak dalam penerapannya. Karena semakin mudah dalam mengakses dunia digital, sudah selayaknya masyarakat dapat memahami dan mengerti konsekuensi baik serta buruknya.

Kata dia, ada beberapa kemudahan yang dapat dirasakan saat mengakses dunia digital. Di antaranya memotong waktu, memotong jarak, memotong besarnya ongkos yang dikeluarkan dan memotong proses administrasi yang ribet.

“Namun, dengan kemudahan-kemudahan tersebut, kita harus sadar, hati-hati dan secara bijak memanfaatkannya,” ulas Kresnayana.

Kresnayana menambahkan, konsep literasi digital juga memuat berbagai macam konsekuensi baru. Yaitu, seluruh data pribadi dapat terakses dalam dunia digital, seperti data diri seperti nama, alamat, tempat tanggal lahir hingga prilaku individu.

“Jika dulu kita sering menuliskan nomor telepon di Facebook atau media sosial lain di dunia digital, data tersebut dapat dimanfaatkan orang untuk menawarkan produknya secara langsung pada kita. Jadi, jangan salah jika kita tiba-tiba mendapatkan telepon dari salah satu perusahaan dan menawarkan produknya kepada kita,” terang dia.

Kondisi semacam itu, sambung Kresnayana, menjadi hal yang wajib dipahami. Karena, keterbukaan akses dalam dunia digital patut disikapi dengan bijak. “Jika tidak, tentu saja kita bakal menerima konsekuensi buruk. Sebaliknya, jika kita bijak melakukannya, kita mendapat manfaat positif di era digital ini,” tutup dia. (wh)