Kembangkan Ruang Simulator, UM Surabaya Belajar ke Australia

Kembangkan Ruang Simulator, UM Surabaya Belajar ke Australia

Rektor Universitas Muhammadiyah Surabaya Sukadiono bertemu Mr David Saunders, Executive Director International Education and Business Development, di TAFE Holmesglen Institute Australia. foto:humas umsurabaya

Fasilitas pembelajaran di Universitas Muhammadiyah (UM) Surabaya terus dikembangkan. Salah satunya dengan mencontoh kelengkapan sarana belajar di TAFE Holmesglen Institute Australia.

Rombongan rektorat UM Surabaya mempelajari ruang simulator untuk praktikum mahasiswa keperawatan. Ruang simulator tersebut terdapat ruang khusus untuk pasien dan ruang untuk mahasiswa melakukan observasi dan evaluasi dalam waktu bersamaan.

“Laboratorium semacam ini sudah sempurna dalam menggambarkan kondisi riil pasien,” tutur Rektor UM Surabaya Dr Sukadiono saat berada di Melbourne, Australia, Rabu (14/2/2018).

Sukadiono menuturkan, ruang simulator memungkinkan mahasiswa menyaksikan secara langsung tindakan medis tanpa diketahui pasien. Proses itu dilakukan baik melalui video maupun ruang kaca yang terhubung dengan ruang simulasi. Tidak hanya tindakan medis ringan, operasi pasien juga dapat dilakukan dalam ruang simulator ini sesuai dengan kasus yang diharapkan untuk dipelajari.

“Kami tertarik untuk mengembangkan fasilitas semacam ini. Namun, kita juga harus menghitung kemampuan anggaran karena kebutuhan biaya yang diperkirakan mencapai puluhan miliar,” tutur mantan Direktur RS Muhammadiyah Surabaya itu.

Kembangkan Ruang Simulator, UM Surabaya Belajar ke Australia
Ruang simulator untuk mahasiswa keperawatan di TAFE Holmesglen Institute Australia.foto:humas umsurabaya

Selain sarana prasarana, kunjungan ke Australia tersebut juga dimanfaatkan Rektor UM Surabaya untuk bekerjasama dalam hal sertifikasi bahasa dan kompetensi bagi lulusan fakultas teknik.

Mr David Saunders, Executive Director International Education and Business Development, mengungkapkan Technical and Further education (TAFE)  yang ada di Australia merupakan lembaga pengelolaan pendidikan vocasional yang dijalankan dengan sinergi bersama industri serta pemerintah.

Di kampus tersebut, mahasiswa diajarkan secara langsung seperti mereka bekerja di Industri. Di akhir masa studi, mereka mendapatkan sertifikasi yang dapat digunakan untuk bekerja. Sertifikat tersebut telah memenuhi standar Australian Qualification Framework (AQF) atau semacam Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI).

Dalam AQF terswbut terdpat 10 level kompetensi diantaraya Certificate 1 – 4, diploma,  advanced diploma, associate degree, bachelor degree, bachelor honours degree, garduate certficate, graduate diploma, masters degree dan doctoral degree. “Program riset yang dijalankan di Holmesglen juga dilakukan sebagai riset kolaborasi antara industri,” tutur David.

Selain TAFE Holmesglen, kerjasama juga dilakukan dengan Victoria University bersama dengan 19 Perguruan Tinggi Muhammadiyah di Indonesia. Dalam kerjasama tersebut, sejumlah program disepakati antara lain, pengembangan SDM, riset kolaboratif  dan publikasi internasional. (wh)

Marketing Analysis 2018