Kebangkitan Kampung Surabaya

Kebangkitan Kampung Surabaya

foto"ist

*) Oleh: Sabar Swastono

Berbanggalah menjadi warga Surabaya. Terutama mereka yang tinggal di kampung. Karena kampung sekarang bukan merepresentasikan kaum marjinal, kaum terpinggirkan. Nama kampung kini justru jadi kebanggaan dengan berbagai macam karakteristiknya.

Lihat saja, banyak sudut Kota Pahlawan yang bangga memakai embel-embel kampung. Ada Kampung Roti, Kampung Dolanan, Kampung Hidroponik, Kampung Lontong, Kampung Dinamo, Kampung Warna-Warni, Kampung Nelayan, dan masih banyak lagi.

Nama kampung memang sedang booming. Dilabeli dengan berbagai istilah yang mencirikan kekhasan. Meski dalam terminologinya, kampung diartikan sebagai kelompok rumah yang merupakan bagian kota,biasanya dihuni orang berpenghasilan rendah, kesatuan administrasi terkecil yang menempati wilayah tertentu dan letaknya di bawah.

Faktanya di Surabaya memang beda. Kampung-kampung di Surabaya kini menjadi pembicaraan dunia. Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini berhasil menata kota dan kampung-kampungnya. Kampung tidak dihancurkan (demolotion), tapi justru dirawat.

Saya sangat sepakat jika membangun harus dimulai dari kampung. Kampung kuat, negara akan kuat. Kita pantas mengakui kepemimpinan Wali Kota Risma membangun Surabaya jauh lebih bagus dan luar biasa. Ini semua berkat keberanian dan tekad yang kuat sebagai pemimpin kota. Membangun dan butuh komitmen dan integritas. Tanpa itu, mustahil akan tercapai.

 

Manfaat Ekonomi

United Cities Local Goverment (UCLG) se-Asia Pasific (ASPAC) sedang berlangsung di Surabaya. Event internasional dan bergengsi yang luar biasa untuk ajang promosi.

Yang menjadi catatan saya, jika kampung-kampung sudah bagus, hijau, dan indah, tentunya harus memberikan dampak positif buat warganya. Harus ada peningkatan ekonomi warganya.  Ini sangat penting agar kita bisa bertahan dan menjaga dan merawatnya.

Bagaimana menyutikkan semangat kepada warga bisa meraup penghasilan di kampungnya. Bekerja di kampungnya sendiri. Kampung Ampel, misalnya. Siapa tidak kenal kawasan itu yang berdiri Masjid Ampel. Seluruh dunia pasti tahu. Kawasan religi yang banyak dikunjungi wisatawan, baik domestik maupun mancanegara.

Pun Rumah H.O.S Cokroaminoto di Peneleh. Siapa yang tak kenal dengan tokoh bangsa yang menjadi panutan dan rujukan para pemimpin di Tanah Air?

Masjid Ampel dan Rumah HOS Cokroaminoto adalah peninggalan sejarah yang luar biasa. Namun, apakah kampung di sekitarnya sudah manfaat dan dampak ekonomi dari kedua tempat bersejarah tersebut?

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Surabaya harus bisa mendorong geliat kampung, sekaligus menjadikan warga bisa mendapat manfaat ekonomi. Skema marketing melalui paket tur, misalnya, bisa jadi salah satu alternatifnya.

Jambangan, Peneleh, Ketandan, Maspati dan lainnya yang sekarang menjadi jadikan objek kunjungan delegasi UCLG ASPEC. Saya berharap bukan hanya dijadikan objek, tapi harus menjadi kampung wisata yang mandiri dan profesional.

Perjuangan pasti memerlukan pengorbanan. Konsisten adalah kunci kesuksesan. Salam kebangkitan kampung Surabaya! (*)

*) Penulis adalah penggagas Kampung Lawas Maspati

Marketing Analysis 2018