Kalangan Bisnis Tunggu Arah Kebijakan Capres Terpilih

 

Kalangan Bisnis Tunggu Arah Kebijakan Capres Terpilih
Nurhayati, Meiga Dewi Regional, dan Doddi Madya Judanto, menghadiri Perspektive Dialogue di Radio Suara Surabaya, Jumat (6/6/2014).

Perhelatan pemilihan presiden (Pilpres) pada 9 Juli 2014 tak luput dari perhatian kalangan bisnis nasional. Tema tersebut dikupas dalam Perspektive Dialogue di Radio Suara Surabaya, Jumat (6/6/2014).

Hadir sebagai narasumber, Direktur Enciety Business Consult Doddi Madya Judanto, Kepala Kantor Perwakilan Surabaya BI Nurhayati, dan Head Danareksa Sekuritas Meiga Dewi Regional.

Di mata Doddi, prospek bisnis di semester II  2014 ini bakal membaik. Pada semester ini, kalangan bisnis sudah tahu siapa Presiden terpilih mendatang. Sekaligus bagaimana situasi keamanan yang terjadi. “Dua hal ini akan sangat berpengaruh pada kondisi bisnis ke depan,” ujar dia.

Secara umum,  sambung Doddi, dari sisi kondisi ekonomi yang tercatat selama  semester I lalu,  sebetulnya siapapun yang terpilih nanti tak akan banyak berpengaruh. Situasi ekonomi nasional dan global cukup bagus. “Tidak perduli siapapun yang menang dari kedua calon Presiden tersebut,” tegasnya.

Kendati begitu, semua bisa berubah bila capres nanti mengambil kebijakan yang  bertolak belakang dengan kondisi yang ada. Kata dia, bicara investasi memang ada beberapa peristiwa yang mempengaruhi. Tingkat suku bunga sendiri lebih meningkat sekarang di tahun 2014 dibanding sebelumnya. Nilai tukar rupiah kembali melemah.

“Pasar dan semuanya masih menunggu dulu mau arahnya kemana,” cetus bebernya.

Jadi pelaku pasar masih menunggu kepastian bisnis dan harus dimunculkan kepastian keamanan. “Semester II diharapkan lebih bagus dan masyarakat jangan hanya jadi pengikut saja karena prospeknya jelas,” pungkasnya.

Sementara Kepala Kantor Perwakilan Surabaya BI Nurhayati mengatakan, bila politik atau pemilu sebenarnya sudah biasa. Yang dilihat sebenarnya kebijakan apa dari para calon presiden untuk ekonomi bisnis. “Stabilitas keamanan untuk ekonomi sangat mempengaruhi,” kata Nurhayati.

Dia menilai, sebenarnya banyak hal yang mempengaruhi. Dari investor sendiri sejak 2013-2014 cukup lumayan. Pihaknya akan menggerakan pasar modal yang akan di-launching akhir tahun ini. Dengan tujuan mengajarkan masyarakat secara menyeluruh agar tidak takut pada pasar modal secara berkesinambungan.

“Perkembangannya masih 40 persen lokal dan 60 persen asing. Kalau bisa kan kebalikannya. Kita harus mempersiapkan diri menghadapi investor asing,” ujarnya.

Yang penting persiapkan diri sendiri dan mempersiapkan proteksi diri. Investor harus cepat untuk ambil keputusan. Investasi saham sekarang cukup Rp 100 ribu. Dulu, minimal Rp 50 juta. Ini merupakan satu gebrakan untuk meningkatkan investor.

“Minimal 1 lot adalah Rp 100. Agar terjangkau. Silakan gabung bagi masyarakat untuk dipahamkan bahwa saham itu mudah,” pungkasnya.

Hal senada disampaikan Head Danareksa Sekuritas Meiga Dewi Regional.  “Dari sisi investor sebenarnya Pilpres hanya salah satu saja dari banyak variabel lainnya. Kondisi makro global trennya kemana karena pengusaha masih mengira-ngira. Keamanan di Indonesia juga diperhitungkan dan diapresiasi investor asing,” jabarnya.

“Bisa berdampak postif seperti kerusuhan di Bangkok akhirnya investasi dialihkan kesini ke Indonesia,” imbuh Meiga.

Banyak perusahaan asing mencari partner untuk masuk perekonomian di Indonesia. Bila dilihat dari sisi global ada di Amerika dan Eropa. Dan ada peluang positif dari sisi ekspor untuk mengurangi defisit. Itu memberikan harapan bagi bangsa Indonesia.

“Seperti gerakan cinta pasar modal. Akan membuka wawasan dan jangan hanya jadi penonton saja,” pungkasnya. (ram/wh)

 

Marketing Analysis 2018