Kabupaten Flores Timur Adopsi Pelatihan PE

Kabupaten Flores Timur Adopsi Pelatihan PE

Para fasilitator usaha kecil dan menengah Kabupaten Flores Timur. Melihat pelatihan Pahlawan Ekonomi di Rusun Sombo Surabaya, Kamis (26/4/2018).foto:arya wiraraja/enciety.co

Pahlawan Ekonomi (PE) Surabaya benar-benar jadi role model nasional pemberdayaan ekonomi masyarakat. Ini setelah sepuluh orang perwakilan Pemerintah Kabupaten Flores Timur Nusa Tenggara Timur melakukan studi banding untuk melihat dari dekat pelaksanaan program Pahlawan Ekonomi.

Kesepuluh orang tersebut adalah para fasilitator usaha kecil dan menengah yang bertugas di Kabupaten Flores Timur.

“Mereka yang kami bawa ini bertugas menangani masyarakat Kabupaten Flores Timur agar masyarakat mampu menjadi pelaku usaha dan dapat mengembangkan usahanya hingga sukses,” ujar Frederik Steven Bili, Kepala Dinas Koperasi Usaha Kecil dan Menengah Kabupaten Flores Timur Nusa Tenggara Timur, di sela acara pelatihan Pahlawan Ekonomi yang digelar di Rusun Sombo Surabaya, Kamis (26/4/2018). Pelatihan ini diikuti belasan Mama-Mama Papua asal Kabupaten Jayawijaya.

Menurut Frederik, Pahlawan Ekonomi terbilang sangat sukses. Setelah melakukan pengamatan di lapangan, dirinya sangat kagum dengan program yang sudah berjalan sejak tahun 2010 itu. Di mana Pahlawan Ekonomi digagas awal oleh Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini.

“Tujuan utama kami datang ke sini adalah belajar bagaimana cara melakukan pendampingan kepada para pelaku usaha. Untuk itu, selama beberapa hari ini kami bakal terus ikut pelatihan untuk melakukan observasi,” ungkap Frederik.

Dalam kesempatan itu, ia menjelaskan program pemberdayaan masyarakat yang telah berjalan di wilayahnya. Di antaranya program Misi Selamatkan Anak Muda. Program tersebut sedikit banyak mengadopsi konsep yang ada pada pelatihan Pahlawan Ekonomi. Di antaranya menggelar berbagai pelatihan menjadi pelaku usaha kreatif.

“Di daerah kami angka pengangguran sangat tinggi. Lantas, kami berpikir jika hal ini tidak ditangani, daerah kami bakal mundur. Kami beranggapan jika perubahan harus dilakukan dari anak muda. Jadi kami coba untuk buat program pemberdayaan masyarakat yang diperuntukkan buat anak-anak muda Flores Timur,” terang Frederik.

Dirinya mengaku, melakukan pembinaan kepada masyarakat, khususnya anak muda tidak semudah membalikkan telapak tangan. Banyak yang perlu dilakukan. Di antaranya melakukan pendampingan secara intens.

“Kami sadar, untuk mengubah masyarakat ini sangat sulit. Dengan melakukan observasi langsung di Surabaya, besar harapan kami dapat mengambil beberapa ilmu yang dapat kami pakai di daerah kami nanti,” jelas Frederik. (wh)