Jawa Timur, Economic Generator, dan Kestabilan Era Berbagi

Jawa Timur, Economic Generator dan Kestabilan Era Berbagi

*Unung Istopo Hartanto, peneliti Enciety Business Consult

Jawa Timur memiliki keragaman yang luar biasa. Dahulu, sekarang, dan masa mendatang. Dulu, saat awal sekolah, ayah saya membelikan kaset albumnya Helen Koeswoyo, Ayo Sekolah. Beberapa tahun kemudian saya dibelikan kaset albumnya Cicha Koeswoyo. Salah satunya, ada lagu Aku Anak Desa karya A Riyanto.

Coba kupas, bagaimana Jawa Timur dahulu, sekarang dan masa depan, melalui lirik lagu tersebut. Lagu ini salah satu yang selalu menjadi inspirasi saya sejak kecil.

Aku anak desa, lulusan SMA/Punya cita-cita membangun negara/Kusingsingkan lengan, ku pergi ke kota/Cari pengalaman, menambah diploma

Konsep sehat secara menyeluruh baik menurut WHO dan Kemenkes adalah sehat (fisik dan ruhani), cerdas (pendidikan) dan mandiri (kemampuan dalam memenuhi kebutuhan ekonomi). Ukuran ini secara statistik, diwujudkan dalam IPM atau HDI (Human Development Index). Negara memiliki kekuatan penuh bersama warganya untuk membentuk masyarakat yang berkualitas (sehat, cerdas dan mandiri).

Konsep sukses, pada era 80-90an, adalah migrasi ke kota, baik untuk bekerja maupun kuliah. Apakah masih sekarang?

Menjadi wajar, saat mudik, konsep sukses adalah hasil yang diperoleh dari kota. Perkembangan era digital, sangat mengubah konsep itu, jumlah desa yang menjadi kota makin banyak. Dulu, desa mengajari tentang bagaimana

hidup, kota menanamkan paham gaya hidup. Khusus hal ini akan saya bahas di waktu lain, bisa panjang banget.

Secara keseluruhan, lirik lagu ini luar biasa. Namun atas pertimbangan waktu, saya akan langsung lompat pada reff terakhir.

Yang namanya pungli aku anti/Segala korupsi aku benci
Indonesia makin jadi rapi/Ayo membangun negeri sendiri.

Riset Enciety Business Consult menunjukkan, wilayah dengan jumlah penduduk yang berpendidikan lulusan SMA dan ke atas di atas 25 persen merupakan wilayah economic generator Jawa Timur. Wilayah yang sangat rentan dengan corruption. Kekuatan membangun negeri harus menjadi semangat bersama.

Sekarang, 2018, Jawa Timur memiliki tiga generasi yang hidup bersama. Generasi analog (generasi radio, koran dan TV), generasi digital immigrant (generasi yang masih baca koran, pakai jam tangan, tapi juga akses media sosial). Terakhir, generasi digital native (game, internet, socmed online, youtube mendominasi).

Hari ini dan masa depan, bukan hanya menjadi perkara pekerja dan kuliah. generasi now, lebih kuat membangun startup. Menciptakan lapangan kerja yang makin inovatif.

Jawa Timur masih didominasi desa, namun tumbuhnya toko-toko smartphone di hampir semua wilayah, mengindikasikan akan ada perubahan besar di masa mendatang. Tuntasnya era internet (maturity), masuknya pada era social media (maturity). Jadi biasa saja, kalau teks hoaks bertebaran, karena rakyat sedang belajar untuk mencapai kestabilan era berbagi. Jawa Timur selalu menarik menjadi kajian karena statistiknya dahsyat. Salam.(*)