Jangan Cuma Label, tapi Buruk Layani Konsumen

Jangan Cuma Label, tapi Buruk Layani Konsumen

Fajar Hari Wibowo

Bagi mereka yang kebelet memiliki rumah idaman, kredit kepemilikan rumah ibarat salah satu jalan dari seribu jalan menuju Roma. Saat harga rumah berlari sangat kencang, sementara pendapatan berlari bak keong sawah, maka Kredit Perumahan Rakyat (KPR) adalah tunggangan yang banyak dipilih.

Produk KPR antarbank tentu tidak begitu berbeda. Apalagi bagi orang yang tidak begitu paham terhadap untung ruginya pembiayaan syariah, konvensional, flate rate, atau floating rate. Orang tidak terlalu ambil pusing perbedaannya, yang penting rumah yang diinginkan segera terbeli.

Beberapa hari lalu, saya diminta saran tentang untung rugi membeli rumah di sebuah kawasan perumahan yang baru saja dikembangkan. Di samping memberikan pertimbangan profil lingkungan di sekitar perumahan, waktu tempuh menuju tempat kerja, dan capital gain atau kecepatan kenaikan harga rumah di lokasi tersebut, saya juga mencarikan informasi alternatif pembiayaannya.

Bak sambil menyelam minum air, saya pun tergelitik melakukan mystery shopping ke beberapa bank. Pilihan saya adalah berkunjung ke bank syariah dan bank konvensional untuk membandingkan penawaran skema pembiayaan yang mereka miliki, sekaligus melihat bagaimana mereka melayani. Untuk mempermudah dan mempersingkat waktu, saya kemudian mencari ruas jalan yang disitu banyak terdapat kantor cabang bank.

Ternyata, baik di kantor cabang bank syariah maupun konvensional, sales agent (tenaga penjualan) KPR tidak bisa langsung ditemui. Di salah satu cabang bank syariah ternama, saya disarankan ke Darmo Boulevard bila ingin mendapatkan informasi dan bertemu dengan tenaga pemasaran KPR. Atau, jika ingin ditemui di kantor cabang tersebut, saya diminta untuk menghubungi nomor telepon salah satu sales agent dan membuat janji terlebih dahulu. Singkat cerita, salah satu staf memberi potongan kertas yang disitu tertulis nama sales agent dan nomor mobile phone yang bisa saya hubungi.