ITS Optimistis Pertahankan Nilai Akreditasi A

ITS Optimistis Pertahankan Nilai Akreditasi A

Joni Hermana

Dalam proses re-Akreditasi Institusi Perguruan Tinggi (AIPT), Badan Akreditasi Nasional-Perguruan Tinggi (BAN-PT) melakukan visitasi ke ITS Surabaya untuk memastikan kembali kualitasnya sebagai salah satu perguruan tinggi terbaik di Indonesia.

Kegiatan visitasi yang dilakukan asesor BAN-PT tersebut berlangsung di Gedung Rektorat ITS, Rabu (14/11/2018).
Pada visitasi kali ini tim asesor dari BAN-PT terdiri dari lima orang asesor yaitu Prof Dr Ir Johny Wahyuadi M DEA dari Universitas Indonesia (UI), Dr Ir Prastawa Adi MSc dari Universitas Hasanuddin Makasar (Unhas),  Prof Dr Abdul Rohman MSiAkt dari Universitas Diponegoro Semarang (Undip), Prof Dr Ir Berhard Sitohang dari Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Dr Drs I Wayan Suardana MSn dari Universitas Yogyakarta (UNY).

Rektor ITS,  Prof Ir Joni Hermana MScES PhD mengatakan, AIPT adalah proses penilaian terhadap institusi secara keseluruhan yang didasarkan pada Standar Nasional Pendidikan Tinggi (SN-DIKTI). “Tujuan dilaksanakannya akreditasi ini untuk mengetahui komitmen institusi terhadap penyelenggaraan akademik dan manajemen institusi secara menyeluruh,” ujarnya.

Joni menyampaikan, untuk penilaian yang menyeluruh, tim asesor juga melakukan proses wawancara kepada seluruh lapisan sivitas akademika ITS mulai dari dosen, mahasiswa, tenaga pendidik, hingga alumni ITS pun turut dihadirkan untuk proses wawancara akreditasi institusi ini. Selain itu para asesor juga akan mengunjungi serta mengecek secara langsung sarana dan prasarana yang ada di ITS.

Guru Besar Teknik Lingkungan ITS itu menyampaikan, ITS sebagai perguruan tinggi yang berkewajiban untuk mencetak lulusan yang berkualitas, keberadaan akreditasi AIPT ini sangat berpengaruh guna menjaga standarisasi mutu perguruan tinggi. “Kami optimis pada penilaian kali ini, karena salah satunya yang menjadi keunggulan ITS pada tahun ini adalah status ITS yang sudah menjadi PTN-BH (Perguruan Tinggi Berbadan Hukum, red),” katanya.

Joni mengatakan, ada Sembilan kelompok standar kriteria akreditasi yang menjadi penilaian BAN-PT berbasis SN-DIKTI. Standar pertama yaitu ketercapaian visi, misi, tujuan dan sasaran. Dalam mendukung hal tersebut, ITS telah mendefinisikan langkah-langkah strategisnya, terutama dalam melakukan adaptasi pada era Industri 4.0.

Ia melanjutkan, ada 11 poin yang menjadi kunci dasar dalam mewujudkan langkah ITS tersebut yakni: digitalpreneurship; keselarasan dengan kebutuhan publik dan industri; pembangunan karakter 4.0; big data dan internet of things (IoT); intelegent machines; pembangunan infrastruktur IT; membangun jaringan global untuk akademik, riset, dan inovasi; lifelong education; pembelajaran jarak jauh; teaching industry; serta lingkungan yang adaptif.

Standar berikutnya adalah tata pamong, kualitas mahasiswa dan sumber daya manusia (SDM). Menurutnya, tata pamong berarti sistem yang dilakukan ITS dalam menjamin penyelenggaraan program studi sarjana dalam memenuhi prinsip-prinsip kredibilitas, transparansi, akuntabilitas, tanggung jawab, dan keadilan. “Kalau standar mahasiswa dan SDM, yang dinilai dari BAN-PT yakni strategi dalam mempersiapkan mahasiswa dan SDM agar memiliki nilai-nilai profesionalisme, kemampuan adaptif, kreatif dan inovatif yang tinggi,” paparnya.

Joni juga optimis, dari sisi mahasiswa, ITS cukup produktif dalam berinovasi dan berkompetisi. “Terhitung dari awal bulan Januari 2018 sampai bulan Oktober lalu, terdapat 72 prestasi medali emas atau juara satu lomba nasional,” urainya.

Selain itu, ia melanjutkan, kalau kinerja para dosen ITS juga cukup produktif dalam menghasilkan karya akademik, tertandai bahwa publikasi internasional yang terindeks scopus meningkat tajam.

Lanjut Joni, standar SN-Dikti yang lain adalah di bidang keuangan, sarana dan prasarana, pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, serta output dan dampak tridharma perguruan tinggi kepada masyarakat. “Dari sisi keuangan, ITS untuk UKT (uang kuliah tunggal,red) terhitung lebih murah dibandingkan peguruan tinggi negeri berbadan hokum lainnya,”  kata Joni.

Joni juga menyampaikan, dalam peran aktif untuk berkontribusi secara nasional ITS juga membangun pusat studi yang didasari atas potensi akademik yang ada di ITS. Pusat studi tersebut di antaranya Pusat Studi Energi, Pusat Studi Kelautan, Pusat Studi Informatika dan Robotika, Pusat Studi Lingkungan Hidup dan Pemukiman, Pusat Studi Tranportasi dan Logistik, Pusat Studi Material dan Nano Teknologi, Pusat Studi Bencana dan Perubahan Iklim, Pusat Studi Potensi Daerah dan Pemberdayaan Masyarakat, serta Pusat Studi Sains. “Seperti halnya baru-baru ini, Pusat Studi Bencana dan Perubahan Iklim telah banyak memberikan bantuan juga atas tragedi gempa bumi yang berada di Lombok dan Palu Sulawesi Tengah,” tuturnya.

Dari semua standar yang dilakukan, ITS juga telah menjalankan kurikulum baru. Kurikulum baru ini dijalankan sebagai langkah sigap ITS dalam menanggapi isu strategis dalam mewujudkan kontribusi nasional secara nyata dan menjadikan ITS sebagai world class university.

Selain sembilan standar berbasis SN-DIKTI yang telah disebutkan di atas, ITS juga berinisiatif memiliki dua penilaian standar lain untuk meningkatkan penilaian yang dilakukan asesor BAN-PT. Standar itu yakni standar internal dan standar ASEAN University Network Quality Assurance (AUN-QA). Standar internal di sini yang dimaksud adalah kebijakan tiap departemen dalam proses penjaminan mutu dan pengelolaan akademik. Serta dari beberapa departemen yang sudah tersertifikasi AUN-QA memiliki standarisasi tersendiri yang harus dipenuhi. “Dua standarisasi tersebut menunjukkan kesiapan ITS dalam menjamin mutu perguruan tinggi dan siap untuk menjadi universitas kelas dunia,” imbuhnya.(wh)

Marketing Analysis 2018