ITS Kolaborasi dengan NTUST Taiwan

ITS Kolaborasi dengan NTUST Taiwan

Pembukaan program Engineers in Action (EiA) 2018 antara ITS Surabaya dan NTUST Taiwan, Senin (30/7/2018).

Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya semakin getol membangun program kerja sama internasional. Hal ini dibuktikan dengan terselenggaranya kembali kerja sama di bidang teknologi dalam program Engineers in Action (EiA) 2018 antara ITS Surabaya dan National Taiwan University of Science and Technology (NTUST) Taiwan.

Kegiatan yang dibuka secara resmi Rektor ITS Prof Ir Joni Hermana di Ruang Sidang Utama Gedung Rektorat ITS, Senin (30/7/2018). Diikuti 15 mahasiswa dari NTUST dan 19 mahasiswa dari ITS. Program tahunan yang akan berlangsung hingga 18 Agustus ini merupakan rancangan dari Direktorat Hubungan Internasional atau International Office (IO) ITS.

Prof Jhy Chern Liu (Dekan NTUST) mengungkapkan kegembiraannya terhadap terselenggaranya program EiA 2018 ini. Menurutnya, kegiatan ini memberikan banyak manfaat dalam peranan kedua perguruan tinggi sebagai kampus teknologi.

“Kolaborasi antara ITS dan NTUST ini kami harapkan akan semakin terjalin kuat,” ungkap Liu.

Prof Joni Hermana mengatakan, melalui kegiatan ini para peserta akan diajak untuk meningkatkan kepedulian terhadap permasalahan yang terjadi di lingkungan sekitar.

“Bukan memberikan hal yang besar tetapi yang lebih penting adalah memberikan sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat, itulah yang ingin ditanamkan dalam EiA 2018 ini,” ujar Guru Besar Teknik Lingkungan ITS.

Mengenai EiA 2018, Direktur Hubungan Internasional ITS Dr Maria Anityasari ST ME, menjelaskan bahwa program kali ini mengangkat topik Community Development atau pengembangan masyarakat menggunakan metode Project based Learning (PbL) atau model pembelajaran yang berbasis proyek.

Para peserta dari ITS dan NTUST yang telah digabung kemudian dibagi menjadi enam kelompok. Masing-masing dihadapkan pada real problem atau permasalahan nyata yang harus mereka observasi, diskusikan dan temukan solusinya. “Sebagai engineer kita harus menjadi bagian dari solusi,” terang dosen Teknik Industri ITS itu.

Lebih lanjut, Maria mengatakan, permasalahan yang akan dihadapi di antaranya mengenai sistem drainase, penyediaan air minum, dan permasalahan septic tank yang terjadi di wilayah Lebak Rejo, Surabaya.

“Nantinya setiap kelompok juga akan dibantu oleh dosen ITS sebagai fasilitator yang akan siap membantu dan membimbing,” imbuh Maria.

Di akhir, Maria berharap dengan adanya program ini para peserta dapat memperoleh pengalaman dan pemahaman dalam melihat serta menangani permasalahan yang terjadi di masyarakat.

“Tak hanya fokus menangani masalah, namun masing-masing peserta juga dapat merasa senang dengan berbagai kegiatannya dan terjalin hubungan pertemanan yang baik,” harapnya. (wh)

Marketing Analysis 2018