ITS Gandeng Multipihak Cari Solusi Pengelolaan DAS Rejoso

ITS Gandeng Multipihak Cari Solusi Pengelolaan DAS Rejoso

foto:humas its

Fungsi strategis dari Daerah Aliran Sungai (DAS) Rejoso sebagai sumber pasokan air bersih di sebagian wilayah Jatim mengalami penurunan dari tahun ke tahun. Padahal, dalam waktu dekat sumberdaya air DAS Rejoso tersebut akan dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Jatim yang lebih luas.

Guna mencari solusi permasalahan tersebut, Fakultas Teknik Sipil, Lingkungan, dan Kebumian (FTSLK) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya mengadakan Forum Group Discussion (FGD) dengan menggandeng Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jatim serta Forum Peduli DAS Rejoso, Jumat (28/9).

Saat ini, mata air Umbulan yang berada di tengah DAS Rejoso telah dimanfaatkan sebagai sumber pasokan air bersih untuk masyarakat di Kabupaten dan Kota Pasuruan serta Kota Surabaya. Dalam waktu dekat, sumberdaya air dari DAS Rejoso juga akan dimanfaatkan untuk masyarakat yang lebih luas di lima kabupaten atau kota, yakni Kabupaten Pasuruan, Kota Pasuruan, Kabupaten Sidoarjo, Kota Surabaya dan Kabupaten Gresik. Akan tetapi, DAS Rejoso sendiri mengalami penurunan fungsi yang tercermin dari intensitas banjir, erosi, dan tanah longsor yang cenderung meningkat serta terjadinya penurunan debit mata air Umbulan.

FGD yang bertempat di Gedung Research Center ITS ini mengangkat tema Menuju Pengelolaan DAS Rejoso Terpadu Melalui Kolaborasi Multipihak untuk Mendukung Pembangunan Berkelanjutan. Mengawali FGD, Wakil Rektor IV ITS Prof Dr Ketut Buda Artana ST MSc, menyampaikan bahwa kegiatan FGD ini sangat cocok dilaksanakan di ITS. Hal ini dikarenakan ITS dan DAS Rejoso berada dalam wilayah yang sama yakni di Jawa Timur. “Selain itu, ITS sendiri memiliki program studi yang sangat relevan dengan permasalahan tersebut,” ungkapnya membuka acara.

Guru besar Teknik Sistem Perkapalan ini juga mengatakan bahwa permasalahan lingkungan yang terjadi tidak bisa dilepaskan dari hubungan manusia dengan manusia. “Maka dari itu perlu adanya tanggapan dari berbagai pihak dalam diskusi ini guna menjawab permasalahan yang ada,” ujar pria kelahiran Singaraja, Bali ini.

Sementara itu, dosen Departemen Teknik Sipil ITS, Prof Dr Ir H Nadjadji Anwar MSc dalam diskusi tersebut menyebutkan tiga rekomendasi yang bisa diberikan sebagai peran akademisi dalam mendukung pengelolaan DAS Rejoso. Pertama adalah agar dilakukan pengelolaan sumber daya air terpadu berbasis pengetahuan (Knowledge Base Integrated Water Resources Management) atau Smart Water Resources Management untuk DAS Rejoso.

Rekomendasi yang kedua adalah menjadikan Kali Rejoso sebagai laboratorium lapangan bagi peneliti ITS termasuk untuk topik-topik tugas akhir, thesis, dan disertasi mahasiswa. “Rekomendasi yang terakhir adalah perlunya pembangunan infrastruktur oleh pemerintah,” jelasnya.

Di sisi lain, Kepala Subbidang Keciptakaryaan Badan Perencana Pembangunan Daerah (Bappeda) Jatim Ir Toni Indrayanto menjelaskan peran pemerintah dalam pengelolaan DAS Rejoso terpadu dan berkelanjutan. Ia mengatakan bahwa Jawa Timur didominasi sektor agribisnis, yang mana menjadi lumbung pangan, air dan energi.

Ia pun menuturkan bahwa dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Provinsi Jawa Timur, pengelolaan lingkungan keberlanjutan menjadi bahasan pertama termasuk kualitas air dan layanan air minum. “Salah satu tantangan dalam pengelolaan DAS Rejoso adalah adanya kewenangan berbagai pihak, sehingga diperlukan adanya kolaborasi antar pihak yang terkait,” terang Toni.

Hal senada juga diutarakan oleh Direktur Utama PDAM Surya Sembada Surabaya, Ir Mujiaman. Ia mengatakan bahwa perlu adanya kolaborasi dari berbagai sektor dalam pengelolaan DAS Rejoso. “Beberapa kegiatan yang dapat dilakukan di antaranya penghijauan, pemberdayaan masyarakat, pembangunan infrastruktur warga, pemberdayaan masyarakat, serta kerja sama antar instansi,” tuturnya.(wh)

Marketing Analysis 2018