Inilah Industri yang Berkembang di Tahun 2019

Inilah Industri yang Berkembang di Tahun 2019

Yapto Willy, Hutama Sugandi, Nur Cayudi, dan Kresnayana Yahya.foto:arya wiraraja/enciety.co

2019 menjadi tahun yang tidak menentu bagi dunia industri. Hal ini disebabkan pada tahun 2019 kita dihadapkan momen politik yaitu pemilihan presiden.

“Jelas hal ini sangat berpengaruh pada dunia industri dalam negeri,” ujar Hal itu disampaikan oleh Nur Cayudi Ketua Forum Komunikasi Asosiasi (FORKAS) Jatim dalam acara Perspective Dialogue Radio Suara Surabaya, Jumat (14/12/2018).

Kata dia, prediksi di Jawa Timur pada tahun 2019 mendatang, ada tiga industri yang dapat meningkat. Yakni, industri hasil tambang, perkebunan dan pengolahan ikan.

“Namun yang harus diperhatikan di 2019 ini adalah bagaimana para langkah kepala daerah untuk bisa mengembangkan potensi yang ada di wilayahnya. Kedua, kebijakan untuk mendorong perekonomian wilayah dan mampu menahan diri untuk tidak membuat kebijakan yang dapat memberatkan dunia industri,” paparnya.

Ketua Gabungan Makanan dan Minuman (GAPMMI) Yapto Willy menjelaskan, jika industri makanan minuman menjadi salah satu industri yang pertumbuhannya sangat pesat.

“Tidak ada yang bisa menjamin perkembangan industri makanan minuman di tahun 2019 mendatang. Kebanyakan para pelaku usaha industri makanan minuman ini bakal wait and see. Hal itu dilakukan lantaran tahun 2019 merupakan tahun politik,” tegasnya.

Kata dia, jika suhu politik memanas, secara otomatis bakal mempengaruhi kondisi perekonomian. “Industri makanan dan minuman ini pasti sektor pertama yang terkena imbasnya. Untuk itu kita harus perhitungkan itu,” kata dia.

Meski begitu, Yapto yakin industri makanan dan minuman di Jawa Timur makin berkembang di tahun 2019. Hal tersebut tidak lepas dari Jawa Timur merupakan daerah penyokong untuk wilayah Indonesia bagian timur.

“Sekarang ini Jawa Timur, khususnya Kota Surabaya, menjadi pusat pemasok untuk daerah-daerah seperti Kalimantan, Sulawesi, NTB, NTT dan lain sebagainya. Untuk itu, kita tetap optimis industri makanan dan minuman masih menjadi ujung tombak dari perkembangan perekonomian Jawa Timur,” ujarnya.

Menanggapi hal tersebut, Hutama Sugandi Ketua Gabungan Eksportir Kopi Indonesia (GAEKI), menjelaskan selama ini pemerintah hanya fokus mengembangkan industri pertanian yang menghasilkan komoditas pangan seperti padi jagung dan lain sebagainya.

“Padahal saat ini, industri hasil pertanian seperti komoditas kopi menjadi salah satu komoditas penting yang harus diperhatikan pemerintah,” tandasnya.

Menurut dia, ada dua hal positif yang dapat dilakukan pemerintah jika dapat mengembangkan komoditas kopi. Pertama, komoditas kopi di Indonesia menjadi salah satu komoditas yang kualitasnya diakui dunia.

“Kopi kita ini menjadi satu komoditas ekspor. Jika pemerintah mau mengembangkan kopi, kita dapat meraup banyak devisa,” paparnya.

Sugandi menambahkan, keuntungan kedua yang dapat dituai pemerintah adalah makin berkembangnya dunia entrepreneur dalam negeri. “Seperti yang kita ketahui, minum kopi itu sekarang menjadi bagian budaya. Banyak anak-anak muda yang sukses dengan menjual kopi. Buka kedai atau warung kopi. Jadi, jika pemerintah ingin menambah entrepreneur, kembangkan komoditas kopi ini,” tandas Sugandi.

Chaiperson Enciety Business Consul Kresnayana Yahya yang memandu acara menimpali, jika saat ini Institut Pertanian Bogor (IPB) telah berencana membentuk jurusan baru yang dapat mencetak orang-orang yang ahli dalam bidang pengembangan kopi.

“Kopi kita punya cita rasa yang unik. Tiap daerah punya ciri khas rasa. Sekarang kopi ini jadi komoditas ekspor yang penting, tapi kita belum punya insinyur atau orang yang ahli. Komoditas ini sangat sensitive. Jika salah membibit, pemeliharaan dan cara memanen maka kualitasnya akan turun. Jadi ke depan kita perlu mereka yang ahli dalam bidang ini,” pungkas dia. (wh)