Ini yang Perlu Disiapkan untuk Menikmati Bonus Demografi 2020

Ini yang Perlu Disiapkan untuk Menikmati Bonus Demografi 2020

Direktur Enciety Business Consult Doddi Madya Judanto. foto:dok/enciety

Tahun 2020, Indonesia bakal menikmati bonus demografi. Di mana makin banyak usia produktif di negara ini. Jika tidak dipersiapkan mulai saat ini, bonus demografi yang dapat diterima bangsa ini bisa menjadi masalah di kemudian hari.

Hal itu disampaikan Direktur Enciety Business Consult Doddi Madya Judanto, dalam acara Perspective Dialogue Radio Suara Surabaya, Jumat (27/10/2017).

Menurut Doddi, dengan bonus demografi yang bakal diterima, maka semakin banyak pula lapangan pekerjaan yang wajib disediakan. “Jadi, kita tidak dapat lagi membayangkan lapangan pekerjaan seperti yang ada saat ini. Di masa datang, mungkin tidak ada lagi pekerjaan kantoran. Lapangan pekerjaan yang banyak tersedia adalah pekerjaan yang melibatkan ide-ide kreatif, soft skill, kemampuan berkolaborasi, dan lain sebagainya,” ujar dia.

Untuk mempersiapkan hal tersebut, Doddi menekankan jika saat ini pola pendidikan menjadi hal utama. Kata dia, pola pendidikan harus sesuai target yang telah dilakukan pemerintah ke depan. Di antaranya, pada tahun 2045, Indonesia bisa menjadi salah satu kekuatan ekonomi 4 terbesar didunia.

“Agar hal tersebut terwujud, maka yang harus dilakukan saat ini mempersiapkan para anak muda agar siap menghadapi perkembangan zaman. Di antaranya dapat mengubah pola pendidikan anak saat ini. Seperti kita ketahui, di tahun 2045 mendatang, para pelaku usaha adalah para pemuda yang lahir pada tahun 1990 sampai 2000,” ujar dia.

Aryo Seno Bagaskoro, pelajar SMA Negeri 5 Surabaya, menambahkan untuk menghadapi perkembangan zaman dan tantangan di masa depan, semangat berkolaborasi sangatlah penting ditanamkan ketimbang semangat berkompetisi.

“Jika kita lihat pola pendidikan di Selaindia Baru, di sana sudah bukan lagi mengedepankan reward and punishment. Pola pendidikan di sana kini telah menganut pola pendidikan reward and support,” ujar Seno yang pernah mewakili Indonesia dalam Pacific Rim International Camp (PRIC) di Jepang 2016.

Seno yang pada beberapa bulan lalu mewakili Jawa Timur untuk program pertukaran pelajar ke Selandia Baru tersebut, menceritakan pengalamannya ketika menimba ilmu di negeri orang. Dia mengaku sempat kaget ketika ada salah satu teman sekelasnya sedang main lempar kertas di dalam kelas pada jam pelajaran berlangsung.

“Di waktu yang sama, ada salah satu guru yang melihat hal tersebut, lalu guru tersebut memberikan tantangan pada kawan sekelas saya tadi. Jika ia bisa melempar kertas ke dalam tempat sampah dengan tepat, maka ia akan mendapatkan tambahan nilai. Jika tidak, guru tersebut akan memberikan pertanyaan dan pelajaran tambahan kepada kawan saya,” ujar dia.

Dari kejadian tersebut, sambung Seno, menunjukkan perbedaan pola pendidikan seperti yang diterapkan di Indonesia. Ia mengaku sangat kagum dengan apa yang diterapkan di Selandia Baru.

“Saya pribadi menilai, pola-pola pendidikan reward and support sangat perlu diterapkan di Indonesia. Lewat pola reward and support, anak dapat merasa nyaman dikelas dan di sekolah. Selain itu, pola pendidikan tersebut dapat membantu anak agar dapat lebih memahami pelajaran yang diajarkan di dalam kelas,” kupas dia. (wh)