Ini yang Diusung Risma Menjadikan Surabaya Smart City

Ini yang Diusung Risma Menjadikan Surabaya Smart City
Rosdiansyah (peneliti JPIP), Rendra Bagas Prakoso (Masika ICMI Jawa Timur) dan Tri Rismaharini (Wali Kota Surabaya), saat menjadi pembicara dalam acara Pelantikan & Diskusi Publik Dengan Tema Peran Cendekiawan Muda Dalam Menjaga Budaya dan Karakter “Arek Suroboyo” Menuju Surabaya Smart City, di Gedung Sawunggaling, Jalan Jimerto, Surabaya, Sabtu (12/9/2015). arya wiraraja/enciety.co

Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini menyampaikan, untuk menuju Surabaya Smart City bukan sekadar menerapkan langkah strategis dari pemerintah, tetapi perlu dukungan kesadaran masyarakat.

“Contohnya, dari skala 1 juta populasi penduduk, harus ada 950 orang yang memahami pentingnya hal tersebut, terutama pemudanya,” ungkap Risma saat menjadi pembicara dalam acara pelantikan dan diskusi Masika ICMI Orda Surabaya di Graha Sawunggaling, Jalan Jimerto, Sabtu (12/9/2015) siang.

Risma melanjutkan, jika saat Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) digulirkan, banyak pemuda dari luar negeri yang akan masuk ke Indonesia.

“Jangan dikira mereka datang dengan modal besar dan bikin pabrik besar disini, mereka datang dengan modal kecil dan membuat usaha kecil menengah (UKM) di sini. Mereka senang disini karena selain populasi penduduk kita yang besar. Di sini hanya ada dua musim, yang jika dibandingkan dengan di China atau Jepang yang memiliki 4 musim yang dapat menghambat produksi mereka,” urai salah satu wali kota terbaik dunia itu.

Risma menambahkan, jika saat ini yang harus dilakukan oleh pemuda Surabaya adalah dapat menyiapkan masyarakat dari tingkatan paling kecil, yaitu lingkungan pergaulan.

Dalam konsep Smart City, Risma menegaskan pemuda Surabaya harus mempertahankan budaya tata kramanya. “Konsep Smart City sangat luas poin indikatornya, mulai dari bidang lingkungan, transportasi hingga budaya. Tapi yang jelas Smart City bagi Kota Surabaya adalah menjadi kota modern yang tidak melupakan nilai-nilai kearifan lokalnya, karena di Kota Surabaya ini kita punya sesuatu yang orang lain tidak punya,” ulas dia.

Sementara itu, Achmad Thufeil Efendi, Ketua Majelis Sinergi Kalam Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (Masika ICMI) Orda Surabaya, mengatakan jika budaya adalah sebuah ajaran dan warisan bangsa yang harus dijaga.

Dia mengingatkan, jika dalam waktu dekat pemuda Surabaya akan menghadapi MEA. Terlebih lagi, dengan digalakkannya Surabaya Smart City maka masyarakat Surabaya terutama generasi mudanya dapat berperan aktif untuk menjadi ujung tombak menjaga kearifan lokal yang ada.

“Untuk menghadapi efek akulturasi budaya dari MEA, lebih dulu kita harus mengenal budaya kita sendiri,” tuturnya.

Thufeil mengatakan jika konsep yang dibawa oleh MASIKA ICMI ke depan adalah Peran Cendekiawan Muda Dalam Menjaga Budaya dan Karakter “Arek Suroboyo” Menuju Surabaya Smart City.

Kata dia, Salah satu latar belakang dipimilihnya konsep tersebut adalah kita ingin tetap mempertahankan identitas Indonesia terutama budaya Arek Suroboyo agar jangan sampai hilang.

“Ketika MEA sebagai pintu awal dari globalisasi masuk, kita tidak takut dengan efek buruk yang mereka bawa, salah satunya adalah tergerusnya kearifan lokal dan nilai-nilai etika dalam budaya kita,” tandasnya.

Dalam pelantikan yang dihadiri oleh puluhan ketua organisasi kepemudaan dan mahasiswa se-Kota Surabaya itu, juga menghadirkan dua pembicara lainnya, yaitu, Rusdiansyah, peneliti dan budayawan Surabaya, serta Rendra Bagas Prakoso, Dewan Penasihat Masika ICMI Orwil Jawa Timur. (wh)