Ini Tantangan dan Peluang Industri Alas Kaki di Tanah Air

Ini Tantangan dan Peluang Industri Alas Kaki di Tanah Air

Chairperson Enciety Business Consult Kresnayana Yahya dan Sekertaris Aprisindo Jawa Timur Ali Mas'ud dalam acara Perspective Dialogue Radio Suara Surabaya, Jumat (9/3/2018).foto:arya wiraraja/enciety.co

Industri alas kaki merupakan salah satu industri padat karya. Hampir semua populasi manusia di dunia yang jumlahnya menyentuh 7,5 miliar orang membutuhkan alas kaki.

“Rata-rata, satu orang di dunia membutuhkan empat pasang sepatu. Jadi kira-kira kebutuhan sepatu di dunia ini mencapai 30 miliar pasang sepatu setiap tahunnya,” ujar Chairperson Enciety Business Consult Kresnayana Yahya, dalam acara Perspective Radio Suara Surabaya, Jumat (9/3/2018).

Kata Kresnayana, jika dihitung peningkatan jumlah konsumsi sepatu dan pakaian di Indonesia tidak sebesar peningkatan jumlah konsumsi yang dikeluarkan masyarakat untuk kebutuhan informasi dan telekomunikasi.

“Secara garis besar mikir gampangnya begini, jika kita ingin belanja pakaian dan sepatu via online, otomatis kita juga wajib memiliki gadget dan pulsa. Jadi tidak salah jika biaya yang keluar untuk komunikasi jauh lebih tinggi,” tegas pakar statistic ITS ini.

Kresnayana lalu menjelaskan fase perkembangan industri sepatu di Tanah Air yang diawali dari kebutuhan pesanan. Setelah kebutuhan akan sepatu mulai bertambah, akhirnya mulai berdirilah industri sepatu.

“Lalu belakangan industri sepatu mulai bertransformasi menjadi industri mode atau yang kita kenal dengan produk kreatif,” cetus dia.

Sampai saat ini, imbuh Kresnayana, tantangan yang dihadapi industri alas kaki di Indonesia situasi dinamis dari mode atau desain sepatu yang digemari oleh pasar. Kondisi tersebut sangat mempengaruhi kebutuhan bahan baku yang digunakan pabrik sehingga mengharuskan pabrik mempersiapkan bahan baku untuk produksi setengah tahun ke depan.

“Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi industri sepatu di Tanah Air. Di satu sisi, mereka diwajibkan untuk mengikuti kebutuhan pasar yang sangat dinamis dengan siklus yang pendek. Namun di sisi lain, ketersediaan bahan baku juga menjadi hal yang wajib dicukupi oleh para pelaku industri sepatu,” papar dia.

Bukan hanya itu saja, terang Kresnayana, untuk melayani pasar luar negeri, industri sepatu Indonesia juga harus mempertimbangkan sertifikasi bagi para pekerja.

“Pemenuhan untuk kebutuhan sertifikasi ini menjadi hal sensitif yang layak dipenuhi, karena hal ini berhubung erat dengan terjaminnya kualitas produk yang dihasilkan,” papar Krenayana. (wh)