Ini Saran CT soal Memulai Bisnis dari Idealisme atau Pragmatisme

Ini Saran CT soal Memulai Bisnis dari Idealisme atau Pragmatisme

Chairul Tanjung, Ahmad Zacky, Dian Sastrowardoyo, Kevin Aluwi.foto:arya wiraraja/enciety.co

Ada dua hal yang dapat dijadikan pondasi seseorang ketika memutuskan menjadi pelaku usaha. Yakni idealisme dan pragmatisme. Kedua hal ini bagai dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan.

“Tidak usah mempertentangkan keduanya untuk memulai usaha. Mau idealisme dulu silakan. Mau pragmatisme dulu gak masalah. Awalnya pragmatisme kemudian setelah besar bisa memperjuangkan idealisme,”  kata Founder dan Chairman CT Corp, Chairul Tanjung, ketika memandu diskusi CEO VS CEO dalam acara Innocreativation bertajuk Smart City to Smart People di Grand City Convex, Surabaya, Selasa, (14/11/2018).

CT, begitu ia karib disapa, menjadi moderator yang menghadirkan Ahmad Zacky (Co-Founder Bukalapak), Dian Sastrowardoyo (Artis dan owner Frame A Trip), Kevin Aluwi (Co-Founder Go-Jek), dan Randy Yusuf (CEO Google Indonesia).

Kata CT, untuk memulai usaha di dunia kreatif, seseorang harus memiliki ide kreatif yang didasari oleh ideologi. Namun, jika berbicara usaha, ide saja tidaklah cukup. Butuh sentuhan-sentuhan pragmatisme untuk bisa membuat usaha kita berjalan dan sukses.

“Contohnya, kalau mau bikin startup, wajib punya ide yang lain dari pada yang lain. Tetapi jika berjalan lambat, harus bisa membaca peluang lewat rasa pragmatisme. Itu agar tetap survive dan bertambah besar,” tegas pria yang dinobatkan sebagai orang keempat terkaya di Indonesia itu.

Intinya, sambung CT, pebisnis wajib memegang teguh kedua pondasi tersebut. Karena kedua hal tersebut saling melengkapi satu sama lain. Contohnya, kalau punya gagasan membuat startup, harus bisa menghitung peluangnya. Memang ide kita ini bagus, namun setelah dilakukan malah rugi.

“Berarti ide kita memang bagus, namun tidak menurut orang lain. Nah, di sinilah kita harus mengkoreksi ideologi kita ini dengan pragmatisme,” kupas dia.

CT juga menegaskan, jika kegagalan merupakan proses belajar yang baik. Banyak dari pelaku usaha sukses saat ini telah mengalami banyak kegagalan.

“Jika kita gagal, kita harus koreksi lagi supaya tidak gagal. Jika gagal lagi, kita harus koreksi lagi. Begitu hingga kegagalan itu bosan pada kita. Jika gagal sekarang, jangan berkecil hati. Kita coba dan coba lagi. Prosesnya memang sulit, namun kita harus bangkit dan meraih keberhasilan,” pungkasnya. (wh)

 

Marketing Analysis 2018