Ini Kiat Musisi Top Bertahan di Era Digital

Ini Kiat Musisi Top Bertahan di Era Digital

Pongki Barata, Afgan Syahreza, Sheryl Sheinafia, dan Eka Gustiwana di Innocreativation yang digelar di Grand City Convex, Kamis (15/11/2018).foto:arya wiraraja/enciety.co

Berbagi kiat sukses di dunia musik dikupas menarik di ajang Innocreativation bertajuk Survival Musician yang digelar di Grand City Convex, Kamis (15/11/2018). Acara tersebut menghadirkan dua musisi top Indonesia Afgan Syahreza dan Sheryl Sheinafia, serta Eka Gustiwana (speech composer).

Pongki Barata yang memandu acara ini, tampil cukup menghibur. Sebelum memanggil narasumber, ia hadir membawakan lagi ciptaannya, Setia. Dengan memetik gitar, Pongki menyanyikan secara apik lagu yang hits di era 90-an tersebut.

sesaat malam datang/ menjemput kesendirianku/dan bila pagi datang/ ku tahu kau tak di sampingku/aku masih di sini untuk setia…

Di awal diskusi, Pongki menceritakan pengalamannya sebagai musisi. Kata dia, dulu musisi seperti dia sangat bergantung pada major label. Di mana, kalau karya sudah diproduksi major label, peluang suksesnya sangat besar.

“Apalagi kalau sudah tampil di televisi. Saya dulu, kalau sudah nyanyi di TV, kaset atau CD pasti laku keras. Bisa sepuluh ribuan keping. Agen-agen pada berebut karena pasti laku,” kata Pongki yang sukses dengan band Jikustik dan The Dance Company.

Namun, imbuh dia, era sekarang telah berubah drastis. Banyak musisi yang justru meraup sukses tanpa major label. Karena mereka mampu memasarkan karyanya di Youtube. Modalnya, suscriber dan videonya dilihat jutaan orang.

Pendapat Pongki tersebut diamini Afgan. Menurut dia, digitalisasi telah mengubah banyak hal. Termasuk preferensi (kesukaan) orang dalam menikmati musik. “Saya termasuk generasi yang menikmati penjualan kaset dan CD, tapi juga di dunia digital ,” ujar penyanyi yang mendapat banyak pengharagaan itu.

Afgan mengaku, awal mengeluarkan album ia menuruti semua selera produser. Menyanyikan lagu-lagu ballad yang dianggap cocok dengan karakter suaranya. “Saya terima saja. Album pertama, kedua sampai ketiga. Baru pada album keempat creative direction saya pegang sendiri,” tutur dia.

Lain halnya dengan Sheryl. Ketika mulai menyanyi dan menciptakan lagu, saat itu ia baru berusia 14 tahun. Lantaran punya tekad menjadi penyanyi profesional, Sheryl memberanikan diri untuk menawarkan karyanya ke major label.

“Saya pitching ke label. Song writer-nya saya sendiri. Lima lagu berbahasa Inggris. Waktu itu belum zamannya. Jadi akhirnya susah diterima,” katanya.

Album Sheryl kemudian lahir. Dengan kepercayaan tinggi, ia yakin akan diterima pasar. Tapi kenyataan berkata lain. Albumnya tidak laku. Banyak kritik diterima. “Salah satunya, suara saya dianggap tidak enak. Saya pun akhirnya belajar dan berlatih,” akunya.

Hingga kemudian Sheryl menemukan karakter yang cocok. Ditambah lagi yang membuatnya berbeda, dia penyanyi perempuan yang piawai bermain gitar. Sheryl menikmati berkah setelah dua lagunya Kedua Kalinya dan Kutunggu Kau Putus, dijadikan soundtrack film Koala Kumal karya Raditya Dika.

Meski begitu, imbuh Sheryl, yakin hingga sekarang masih banyak orang yang belum mengakses media sosial. Karenanya, ia melakukan survei untuk melihat peluang pasar. “Opportunity datanya gak ke label, tapi kita sendiri. Karena itu kita harus tahu market-nya,” ujar dia.

Pengalaman lain diceritakan Eka Gustiwana. Awalnya dia menjadi penyanyi. Karyanya sempat diunggah Youtube, namun tidak mendapat respons baik. “Yang nge-like cuma sepuluh orang. Itu pun keluarga saya semua,” ungkap dia, lalu tersenyum.

Eka kemudian berpikir menjadi berkreativitas memproses perkataan menjadi nyanyian. Hasilnya ternyata luar biasa. Suscriber Youtube-nya kini sudah mencapai 1,1 juta lebih.

“Bagi saya, social media jadi patokan untuk jualan. Kalau mengandalkan adsense gak cukup buat produksi. Namun dari Youtube saya lebih mudah bekerja sama dengan sponsor,” pungkasnya.(wh)

Marketing Analysis 2018