Ini Jawaban Mengapa Homeschooling sebagai Alternatif Pembelajaran

Ini Jawaban Mengapa Homeschooling Masih Dibutuhkan

Muhammad Supriyadi (peserta PKBM PGRI Mandiri Homeschooling Surabaya), Ahmad Yani (peserta PKBM Homeschooling Tunas Harapan Surabaya), dan Rita Saidah (peserta PKBM Homeschooling Tunas Harapan Surabaya) dalam acara Perspective Dialogue Radio Suara Surabaya, Jumat (11/5/2018). foto:arya wiraraja/enciety.co

Pola pendidikan Homeschooling dan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) menjadi satu alternatif pola belajar untuk menghadapi tantangan zaman yang makin cepat dan berat.

Menurut Chairperson Enciety Businesa Consult Kresnyana Yahya, menegaskan, pola pendidikan semacam homeschooling dan PKBM tidak boleh dipandang sebelah mata.

Kata dia, lulusan pendidikan sekolah ini dapat dibilang lebih mandiri dalam dunia pekerjaan. Contohnya, tiga orang yang telah belajar di PKBM kini telah sukses. Mereka adalah Muhammad Supriyadi (peserta PKBM PGRI Mandiri Homeschooling Surabaya), Ahmad Yani (peserta PKBM Homeschooling Tunas Harapan Surabaya), dan Rita Saidah (peserta PKBM Tunas Harapan Surabaya).

“Ketiga orang tersebut kini telah sukses menjadi pelaku usaha mandiri yang dapat membuka lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat,” tegas dia dalam acara Perspective Doalogue Radio Suara Surabaya, Jumat (11/5/2018).

Di masa depan, ungkap pakar statistik ITS itu, ada pergeseran pola pikir dalam dunia pendidikan. Di mana, ijazah sekolah menjadi barang yang tidak terlalu penting.

Menurut Kresnayana, poin yang lebih penting dari ijazah adalah soft skill, keterampilan dan kompetensi pengalaman kerja. “Di dunia profesional, gagasan dan kompetensi pengalaman kerja menjadi hal yang utama. Dengan kurikulum homeschooling yang ada di PKBM ini mereka dapat lebih berkembang dan tidak terpatok pada ijazah,” ulasnya.

Dalam kesempatan sama, Rita Saidah (38) yang pernah belajar di PKBM Tunas Harapan Surabaya, mengaku sangat bersyukur dapat melanjutkan pendidikan tingkat SMA. Ia menyatakan jika waktu lulus SMP, keluarga tidak punya cukup uang untuk melanjutkan ke jenjang SMA.

“Karena terkendala perekonomian keluarga, saya tidak dapat melanjutkan ke jenjang SMA. Selang beberapa tahun, saya bisa melanjutkan dan lulus SMA,” katanya. Rita kini mengembangkan usaha gerabah dari bahan olahan rotan dan kayu.

Kata dia, ada dua materi yang didapatkannya selama belajar di PKBM Tunas Harapan Surabaya. Pertama, kurikulum umum yang banyak diajarkan di sekolah. Kedua, kurikulum keterampilan. Lewat dua kurikulum dasar yang itu, ia kini dapat memahami dan beradaptasi di lingkungan tempat tinggalnya dan bekerja menjadi pelaku usaha.

Begitu juga dengan Ahmad Yani. Cowok kelahiran 29 September 1994 yang pernah belajar di  SMP Muhammadiyah 14 Surabaya itu, kini belajar di PKMB Tunas Harapan Surabaya.

Menurut Yani, dengan sistem kurikulum berbasis homeschooling, ia dapat lebih mengembangkan diri. “Saya sangat bersyukur sekarang bisa membuka usaha bidang printing, sablon, dan konveksi,” ujar dia yang melabeli usahanya, Nusantara Project Surabaya.

Yang tidak kalah membanggakan juga ditunjukkan Muhammad Supriyadi (22). Anak ke 3 dari 5 bersaudara ini sekarang mampu membuka usaha jasa laundry sepatu di tempat tinggalnya di Jalan Solotigo Krembangan, Surabaya yang diberi nama Maids Clean Shoes Surabaya.

Kata dia, ada dua faktor yang membuatnya memilih pendidikan di PKBM dengan konsep kurikulum Homeschooling. Pertama, faktor usia dia yang sudah tidak dapat lagi di sekolah formal. Kedua, jam belajar yang sangat fleksibel yang membuatnya dapat belajar sekaligus bekerja.

“Saya sangat bersyukur ketika dapat melanjutkan sekolah saya lagi di PKBM PGRI Mandiri Homeschooling Surabaya ini. Di samping waktu belajarnya fleksibel, saya juga dapat bekerja membantu biaya sekolah kedua adik saya yang duduk di kelas 2 SMA dan kelas 4 SD,” pungkas dia. (wh)