Ini Faktor Kunci Ekonomi Jatim Lebih Tinggi dari Capaian Nasional

Perekonomian Jawa Timur selalu lebih tinggi di atas capaian nasional. Pada triwulan ketiga 2018, angkanya mencapai 5,40 persen. Diprediksi hingga akhir 2018 ini angkanya meningkat 5,44 persen. Sementara perekonomian nasional angkanya hanya 5,17 persen sampai triwulan ketiga.

Hal itu ditegaskan Chairperson Enciety Business Consult Kresnayana Yahya, dalam acara Suara Surabaya Economic Forum 2019 (SSEF2019) di Grand City Convex Surabaya, Rabu (5/12/2018).

“Secara spasial ada tujuh kabupaten dan delapan kota yang jadi motor penggerak perekonomian Jawa Timur. Bahkan, dalam enam tahun terakhir, rata-rata pertumbuhannya di atas capaian nasional. Di antaranya Surabaya, Sidoarjo, Gresik, Pasuruan, Banyuwangi dan lain sebagainya,” ujar Kresnayana.

Menurut dia, ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan perekonomian di Jawa Timur di tahun 2019. Di antaranya mulai berfungsinya Jalan Tol Surabaya-Ngawi dan Jalan Tol Pasuruan-Probolinggo.

Ada tiga sektor yang mendorong berkembangnya struktur perekonomian Indonesia sekarang. Pertama, industri pengolahan yang menyumbang 20,97 persen. Kedua, sektor pertanian dan perikanan yang jumlahnya 13,66 persen. Ketiga, sektor perdagangan besar dan eceran yang jumlahnya 13,53 persen.

Kresnayana lalu mengutip perkiraan Bank Dunia. Di mana pertumbuhan ekonomi global akan meningkat hingga 3,1 persen pada 2018, setelah pertumbuhan ekonomi pada 2017 jauh lebih kuat dari perkiraan, akibat pemulihan berlanjut pada investasi, manufaktur, dan perdagangan, dan juga negara-negara berkembang yang mengekspor komoditas mendapatkan keuntungan dari menguatnya harga komoditas.

“Ada beberapa faktor yang mempengaruhi perubahan tersebut. Di antaranya pertumbuhan ekonomi India yang meningkat hingga 7,3 persen dan menurunnya perekonomian China yang diprediksi mencapai 6,6 persen, “ jelas pria yang mendapat julukan Bapak Statistika Indonesia itu.

Di sisi lain, Kresnayana juga menyoroti kondisi Indonesia yang menunggu bonus demografi. Di tahun 2018, ada 34 persen dari total jumlah penduduk Indonesia berusia di bawah 24 tahun. Ke depan, jelas sektor industri kreatif yang bakal digarap bagi anak-anak muda.

“Jadi, kita tidak bisa lagi memperlakukan anak-anak kita seperti kita diperlakukan oleh ibu atau nenek kita dulu,” ungkap Kresnayana.

Kresnayana menambahkan, 2019 adalah tahun transisi. Satu hal yang perlu dilakukan pelaku usaha adalah inovasi dan manfaatkan dunia digital.

“Entah itu bisnis apapun. Entah itu sekuat apapun bisnis kita sekarang. Jika tidak masuk ke dunia digital kita akan tertinggal,” pungkas Kresnayana. (wh)

 

 

Marketing Analysis 2018

Berikan komentar disini