Inflasi Jatim 0,07 Persen, Lebih Rendah dari Nasional

Inflasi Jatim 0,07 Persen, Lebih Rendah dari Nasional

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jatim Teguh Pramono

Juli 2018, Jawa Timur mengalami inflasi sebesar 0,07 persen atau lebih rendah dari inflasi nasional sebesar 0,82 persen.

Hal itu ditegaskan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jatim Teguh Pramono mengatakan, Inflasi Jatim cukup rendah merupakan keberhasilan Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) dalam mengendalikan harga selama puasa hingga pasca Lebaran.

Sementara, untuk Indeks Harga Konsumen (IHK) Jawa Timur menunjukkan adanya tujuh kota mengalami inflasi dan satu kota mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Malang sebesar yaitu mencapai 0,21 persen, diikuti Madiun 0,17 persen, Kediri sebesar 0,09 persen, Probolinggo dan Sumenep sebesar 0,06 persen, dan Surabaya dan Banyuwangi 0,03 persen. Sedangkan Jember mengalami deflasi sebesar 0,08 persen.

“Inflasi Juli 2018 lebih rendah jika dibandingkan dengan bulan yang sama pada tahun 2017 yang mengalami inflasi sebesar 0,15 persen,” ujar Teguh Pramono, Rabu (1/8/2018).

Apabila dilihat tren musiman setiap bulan Juli selama sepuluh tahun terakhir (2009- 2018) seluruhnya mengalami inflasi. Bulan Juli 2013 merupakan inflasi tertinggi yaitu sebesar 2,96 persen. Inflasi yang tinggi pada bulan Juli 2013 ini sebagai dampak langsung maupun efek domino dari kebijakan pemerintah menaikkan bahan bakar minyak (BBM). “Kenaikan BBM tersebut yang bertepatan dengan momentum kenaikan inflasi musiman selama bulan Ramadhan dan menjelang Hari Raya Idul Fitri 1434 Hijriyah,” kupasnya lagi.

Lalu, sambung Teguh, dari enam kelompok pengeluaran mengalami infasi, dan satu kelompok pengeluaran mengalami deflasi. Kelompok pengeluaran yang mengalami inflasi tertinggi adalah kelompok Bahan Makanan sebesar 0,35 persen, sedangkan kelompok yang mengalami deflasi adalah kelompok Transport, Komunikasi, dan Jasa Keuangan mengalami deflasi sebesar 0,59 persen.

Untuk komoditas utama yang memberikan andil terbesar terhadap inflasi Jawa Timur bulan Juli 2018 ialah naiknya harga  telur ayam ras, bensin, dan cabai rawit. Sedangkan komoditas yang memberikan andil terbesar deflasi ialah angkutan udara, bawang merah, dan angkutan antar kota. Sedangkan laju inflasi tahun kalender Jawa Timur di bulan Juli 2018 mencapai 1,68 persen, sedangkan tingkat inflasi tahun ke tahun (Juli 2018 terhadap Juli 2017) mencapai 2,58 persen.

“Kelompok inti mengalami inflasi sebesar 0,15 persen, komponen yang diatur pemerintah mengalami deflasi 0,41 persen, sedangkan komponen bergejolak mengalami inflasi sebesar 0,35 persen,” paparnya. (wh)