Tangkal Inflasi, Disperindag Surabaya Rajin Operasi Pasar

Tangkal Inflasi, Disperindag Surabaya Rajin Operasi Pasar

Gangguan distribusi bahan makanan pokok sempat membuat angka inflasi Kota Surabaya meraih peringkat ke-2 tertinggi pada Januari. Inflasi Surabaya sebesar 1,18 persen itu lebih tinggi dibandingkan Bandung, Semarang, Jakarta, dan Yogyakarta. Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) kota Surabaya lantas menerapkan strategi untuk menangkalnya.

Kepala Disperindag, Widodo Suryantoro mengungkapkan, pihaknya rutin melakukan Operasi Pasar (OP) untuk menekan angka inflasi tersebut. “Kami sering melakukan OP di gudang-gudang yang selama ini menjadi penempatan bahan pokok,” jelasnya, Senin (10/2/2014).

Menurut, kata kunci untuk mengendalikan inflasi ialah memenuhi berbagai kebutuhan di Surabaya. Sebab, Widodo menyadari, Kota Pahlawan bukan daerah produsen bahan-bahan pokok. Maka, ketersediaan sembako dan sayuran sangat penting.

“Kami menjalin hubungan baik dengan para distributor alias agen, sehingga tahu betul gejolak harga itu karena stok yang memang terbatas,” katanya mantan Kepala Bagian Perekonomian Pemkot Surabaya ini.

Di Surabaya, ada empat kawasan yang selama ini menjadi lokasi pergudangan. Yakni, kawasan Kenjeran, Romokalisari, Wonokromo, dan Perak. Jika terjadi inflasi, lokasi inilah yang menjadi sasaran operasi pasar. “Sehingga tidak sampai terjadi gejolak harga,” cetus dia.

Disperindag juga berkordinasi dengan Disperindag kabupaten-kabupaten terkait jika mulai ada gejolak harga. Widodo menyebutkan, kabupaten yang menjadi penyangga sembako dan bahan-bahan makanan lainnya antara lain Batu, Pasuruan, dan Probolinggo.

“Nah, kalau akses mulai terganggu, kami bertukar informasi terkait pasokan yang mereka punya,” ujarnya.

Berdasarkan data BPS per Desember 2013, angka inflasi di Surabaya berkisar pada angka 7,52 persen. Ini lebih rendah dari angka inflasi provinsi sebesar 7,59 persen dan juga nasional yang besarnya 8,38 persen (year-on-year).(wh)