Industri Alas Kaki Indonesia Masih Terkendala Bahan Baku

Industri Alas Kaki Indonesia Masih Terkendala Bahan Baku

Sekertaris Aprisindo Jawa Timur Ali Mas'ud dalam acara Prespective Dialogue Radio Suara Surabaya, Jumat (9/3/2018).foto:arya wiraraja/enciety.co

Industri alas kaki Indonesia saat ini memang sedang tumbuh. Namun, ada satu pekerjaan rumah besar bagi salah satu industri padat karya yang menyerap tenaga kerja itu, yakni ketersediaan bahan baku.

Sekertaris Aprisindo Jawa Timur Ali Mas’ud menjelaskan, hingga kini untuk mencukupi kebutuhan pasar yang makin meningkat, industri alas kaki harus mendatangkan bahan baku dari luar negeri.

“Terkait desain atau mode yang diminati pasar, para pelaku industri kita dapat mencukupi hal tersebut. Namun, jika tidak ditunjang bahan baku yang memadai, kreativitas para pelaku industri atau perajin sepatu itu bakal sulit untuk berkembang,” ujar Ali Mas’ud dalam acara Prespective Dialogue Radio Suara Surabaya, Jumat (9/3/2018).

Lantas Ali menjelaskan, saat ini industri alas kaki yang dinaungi Aprisindo memang sedang naik lantaran pengaruh nilai tukar dollar. Namun, industri ini pernah terguncang akibatnya tingginya ongkos produksi. Tepatnya terjadi pada tahun 2017 lalu.

“Saat itu, saking banyaknya stok barang kami sempat beberapa kali kelebihan stok barang digudang. Di satu sisi, kami harus mencukupi kebutuhan para pegawai, hal ini jelas sangat merugikan kami para pelaku industri,” ujar dia.

Lalu untuk bertahan, Imbuh Ali, tahun lalu banyak industri atau pabrik sepatu yang telah pindah dari kota atau daerah ring 1 industri menuju ke ring 2 dan ring 3. Daerah ring 1 yang dimaksud di antaranya Kota Surabaya dan kota-kota besar lain yang memiliki jumlah upah minimum kabupaten/kota (UMK) yang tinggi. Lalu, untuk kota dengan ring 2 dan ring 3 adalah daerah yang memiliki upah minimum kabupaten/kota (UMK) rendah.

“Contohnya, saat ini banyak pabrik sepatu yang dahulu ada di Kota Surabaya kini telah pindah ke daerah-daerah lain, seperti Ngawi, Saradan, Jombang, Lamongan, Madiun dan lain sebagainya. Bahkan, karena terkait UMK tersebut, juga ada sebagian pabrik sepatu yang pindah ke daerah Provinsi Jawa Tengah. Di antaranya ada yang d[pindah ke Jepara, Rembang, Karang Anyar, Salatiga, Wonosobo, Brebes dan lain sebagainya,” kupas dia.

Menurut Ali, masalah tersebut sangat merugikan karena penyerapan tenaga kerja di daerah tersebut bakal berkurang dan terjadi banyak pemutusan hubungan kerja.

“Hal ini menjadi pekerjaan rumah yang wajib di pecahkan bukan hanya oleh para pelaku industri alas kaki, tetapi juga seluruh stake holder yang ada,” tegas dia. (wh)

Marketing Analysis 2018