Indonesia Butuh 50 Ribu Badan Usaha Milik Desa

Indonesia Butuh 50 Ribu Badan Usaha Milik Desa

Kresnayana Yahya.foto"arya wiraraja/enciety.co

Akhir 2018, ada 39 ribu Badan Usaha Milik Desa (Bumdes). Angka ini dirasa masih kurang. Jika dihitung satu desa ada satu Bumdes, maka Indonesia butuh lebih 50 ribu Bumdes yang tersebar di tiap desa di Indonesia.

Hal itu disampaikan Chairperson Enciety Business Consult Kresnayana Yahya, dalam acara Prespective Dialogue Radio Suara Surabaya, Jumat (4/1/2019).

Dengan konsep Bumdes ini, terang Kresnayana, secara kolektif masyarakat desa dapat berpatisipasi membangun desanya supaya jadi lebih maju. Dulu, untuk mendirikan usaha dan membuka lapangan kerja masyarakat secara individu berusaha sendiri.

“Dengan konsep Bumdes ini, masyarakat di desa dapat bersama-sama bekerja membuka lapangan kerja baru. Harapannya kalau dikerjakan bersama, usaha itu makin kuat. Hal ini sudah banyak dibuktikan oleh masyarakat desa yang saat ini daerahnya telah maju,” papar pria yang mendapat julukan Bapak Statistika Indonesia itu.

Kresnayana lantas mencontohkan satu desa yang ada di Jawa Timur. Menurut dia, usaha yang dilakukan masyarakat desa tersebut sangat sederhana, yakni menjual kelebihan alam berupa wisata air terjun yang tingginya hanya sekitar 40 meter. 

“Namun, karena masyarakat desa tersebut mau berusaha dan bergotong-royong, ada penduduk yang merelakan lahannya untuk lapangan parkir. Ada pula penduduk yang membuat usaha warung kopi, warung nasi, ada yang buat usaha toko oleh-oleh, suvenir. Akhirnya, lokasi desa itu jadi lokasi wisata baru dan banyak dikunjungi orang,” tandas Kresnayana.

Untuk membuat usaha bersama dalam konsep Bumdes, sambung Kresnayana, tidak hanya mampu melihat potensi desa. Dibutuhkan rasa saling memiliki antarpenduduk desa. “Cara-cara seperti ini wajib ditiru oleh masyarakat desa lainnya. Karena jika desa dapat maju seperti layaknya kota, maka warga desa juga makin sejahtera,” pungkas Kresnayana. (wh)

Marketing Analysis 2018