Indonesia Baru dan Problem Ketenagakerjaan

Kresnayana Yahya - ENCIETY NEWS

 

Oleh KRESNAYANA YAHYA

Hiruk pikuk Politik dimulai. Beragam partai dan calon legislatif mulai sibuk  mengenalkan, menawarkan diri, dan memikat para pemilih. Segala usaha yang dilakukan ini akan diketahui hasilnya pada hari penentuan, Rabu, 9 April 2014 mendatang. Pemilu hari itu, akan memberi gambaran pada kita, siapa wakil-wakil rakyat yang akan mengisi kedudukan terhormat di DPR maupun DPD RI untuk lima tahun ke depan.

Hasil pada Pemilu Legislatif 9 April itu akan memberi pijakan pada Partai Politik untuk  persiapkan diri pada pertarungan ronde kedua, yakni Pemilihan Presiden. Hajat yang lebih besar ini diperkirakan akan digelar di kisaran Juli mendatang. Jika semua lancar, Oktober mendatang kita sudah bisa  miliki Presiden dan Wakil Presiden baru untuk lima tahun ke depan.

Hajat politik ini memang sebagai konsekuensi dari negara demokrasi. Suka atau tidak, gemuruh proses politik yang sedang berlangsung saat ini adalah  bagian dari mekanisme politik yang sah  dari sebuah sistem demokrasi.

Well, siapapun  pemimpin negeri ini, akan menghadapi tantangan yang berat.  Salah satunya menyangkut lapangan pekerjaan. Saat ini, dan tahun-tahun mendatang, ini bakal menjadi isu penting. Bahkan tidak mungkin akan merepotkan pemimpin baru bangsa ini jika tak segera diantisipasi.

Sebagai gambaran,  kondisi  ketenagakerjaan kita mendatang akan ditandai dengan beberapa  situasi seperti di bawah ini:

–   Model pengembangan kegiatan manusia makin mengarah pada ‘Service Industry’. Lebih khusus lagi akan didominasi oleh creative industry berbasis ICT.

–   Ekonomi  akan mengarah pada New Knowledge Economy.

–   Persaingan  kerja makin keras dan meng-global.  Situasi ini  tak akan terelakkan dalam 10 tahun mendatang.

–   Mobilitas  tenaga kerja akan makin tinggi dan Indonesia berada pada posisi kelebihan tenaga kerja dibandingkan yang bisa diserap di dalam negeri.

–   Kompetensi dan data analisis masih kurang.

Sederet situasi di atas, mari kita komparasikan dengan kondisi sumber daya manusia di Indonesia. Landscaspe nya  bisa tersaji seperti berikut :

–   Dari 250 juta pendudukan Indonesia,  hanya sekitar  4 persen yang -lulusan perguruan tinggi. Jika terus di-push, angka itu baru mencapai 10 persen pada 2030 mendatang.

–   Kelompok pendudukan usia 18-24 tahun, saat ini terdapat sekitar 26-30 juta orang.  Dari jumlah itu, mereka yang masuk perguruan tinggi sekitar 10 persen dan 45 persen lulusan SMA. Sisanya lulus SMP atau di bawahnya.

–   Sebanyak 70 persen pemegang gelar sarjana  berpenghasilan di bawah Rp 5 juta/bulan  sampai 10 tahun masa kerja.

Data-data di atas adalah tantangan riil yang harus dihadapi siapa pemimpin  baru  Republik Ini. Ibaratnya, begitu membuka mata, Presiden baru nanti  sudah dihadapkan setumpuk  tantangan yang harus segera diatasi.  Tak  boleh membuang banyak waktu atau kita  bakal makin ketinggalan. Apalagi, tahun depan, 2015, tantangan global sudah ada di sekiling kita seiring dengan diterapkannya Asean Free Trade Agreement (AFTA) 2015.  So, bagi  Presiden baru, ini tantangan Anda. Selamat bertugas. (*)

*Chairperson Enciety Bussines Consult dan dosen Statistik ITS Surabaya

 

Marketing Analysis 2018