Ifah Mampu Jual Batik Berkualitas setelah Dikritik Bu Risma

Ifah Mampu Jual Batik Berkualitas setelah Dikritik Bu Risma

Noer Cholifah memamerkan produk batik ecoprint buatannya.foto:arya wiraraja/enciety.co

Menjadi pelaku usaha itu butuh ketekunan dan kesabaran. Terlebih pada awal merintis, pasti banyak tantangan dan rintangan yang dihadapi. Jika semua itu bisa diatasi kita yakin bisa menjadi pelaku usaha sukses dan tahan banting.

Hal itu dibuktikan Noer Cholifah, owner Batik Sidorame, yang memproduksi batik ecoprint. “Awal mulai usaha dulu saya sempat dikritik Bu Risma (Wali Kota Surabaya). Bu Risma bilang pilihan warnanya bagus, tapi motifnya jelek. Saya sempat drop waktu itu. Tapi saya lantas sadar, saya memang masih perlu banyak belajar,” ujar dia ditemui di rumahnya, Jalan Pakis Wetan V/40 A, Surabaya.

Menurut Ifah, panggilan karibnya, peristiwa itu terjadi pada 2014. Di mana ia yang merintis usaha ikut pameran yang diadakan Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Keluarga Berencana (Bapemas KB), sekarang menjadi Dinas Pengendalian Penduduk, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP5A).

Saat itu, Wali Kota Risma hadir. Usai memberikan motivasi, dia keliling melihat produk-produk yang dijajakan. “Begitu lihat kain batik saya, Bu Risma langsung berkomentar seperti itu (motifnya jelek, red),” ungkap Ifah.

Setelah dikritik Wali Kota Risma, Ifah tidak patah semangat. Ia makin penasaran. Dia juga lebih bersemangat ikut pelatihan. Hingga, salah seorang kawannya menyarankan ikut pelatihan Pahlawan Ekonomi yang diadakan di Kaza City Mall setiap hari Minggu.

Bergabung dengan Pahlawan Ekonomi, Ifah banyak mendapat masukan dari para mentor dan anggota lainnya. Ia mengaku banyak mendapatkan ilmu bermanfaat dalam pelatihan tersebut.

“Di Pahlawan Ekonomi kita bisa saling bertukar informasi. Saya banyak dapat masukan dan mendapat pelatihan teknik-teknik baru untuk membuat karya kain batik ikat jumputan dengan motif baru yang diminati pasar,” tutur perempuan kelahiran 18 Oktober 1965 ini.

Lamat tapi pasti, Ifah makin terampil. Produknya juga makin diminati pasar. Tahun 2015, Ifah terpilih ikut acara Awarding Pahlawan Ekonomi di Balai Kota (Taman Surya). Ketika itu, Ifah ketemu Wali Kota Risma lagi. Kali ini ia tidak dikritik, tapi dipuji. Batik buatan Ifah pun dibelu wali kota perempuan pertama di Surabaya itu .

“Saya benar-benar kaget. Saya sempat deg-degan ketemu Bu Risma. Takut dimarahi lagi. Namun, saat beliau meninjau stan saya, beliau malah memuji produk-produk saya. Malahan, Bu Risma sempat pesan produk saya sampai order Rp 10 juta,” papar dia, mengenang.

Bayar Jutaan Rupiah untuk Pelatihan

Ifah makin kecanduan meningkatkan kualitas diri. Pada tahun 2016, ia memutuskan ikut beberapa pelatihan di luar pelatihan Pahlawan Ekonomi. Bahkan, ia tidak ragu untuk merogoh saku pribadinya untuk ikut pelatihan di luar kota.

“Saya sering ikut pelatihan di Jogjakarta selama beberapa hari untuk mendalami beberapa teknik pembuatan batik ikat jumput. Sekali ikut pelatihan saya harus bayar hingga jutaan rupiah,” ungkapnya.

Terakhir, Ifah mengaku jika sekarang dia telah melakukan inovasi para produk. Tahun 2018, dia sudah beberapa kali ikut pelatihan batik ecoprint di Jogjakarta. Ifah mengaku, untuk ikut satu kali pelatihan dengan durasi waktu 4-6 hari, ia harus bayar Rp 4-6 juta per paket. Awal Mei lalu ia ikut pelatihan di Yogyakarta seminggu untuk pelatihan batik ecoprint basic.

“Akhir Mei lalu, saya kembali lagi untuk ikut pelatihan batik ecoprint dengan materi pewarnaan tingkat lanjut. Alhamdulillah, saya ke sana tidak merepotkan suami. Saya ikut pelatihan dengan uang tabungan saya sendiri hasil dari saya jualan batik,” ulas Istri dari Sedijawan Warsono (57) itu.

Berkat usahanya, sebulan Ifah dapat mengumpulkan omzet Rp 5-11 juta. Untuk satu produk batik ecoprint ia bandrol Rp 250 ribu sampai Rp 1 juta.

“Bergantung bahan dan kesulitannya. Jika bahannya dari sutra, saya bandrol Rp 700 ribu sampai Rp 1,25 juta. Kalau bahannya kain katun biasa harganya Rp 250 ribuan,” terangnya.

Ifah bertekap terus meningkatkan kemampuannya membuat produk batik. Awal tahun 2019 mendatang, ia dijadwalkan ikut pelatihan batik ecoprint lagi di Jogjakarta. Kali ini yang diajarkan membuat kain batik ecoprint dari bahan bunga.

“Batik ecoprint dari bahan bunga ini jenis baru. Tekniknya juga terkenal sangat sulit. Muda-mudahan dengan ikut pelatihan ini saya bisa dapat meningkatkan kualitas usaha saya,” paparnya. (wh)