Hari Kartini: Indonesia Bebas Miras

Hari Kartini: Indonesia Bebas Miras

*) Oleh: Arifin BH

Tatkala masih kanak-kanak RA Kartini sudah khawatir merebaknya minuman keras (miras). Ketika sering diajak bapaknya ke pesta-pesta, di mana kadang-kadang disajikan miras . Waktu itu belum tahu apa isi botol-botol persegi yang diminum ramai-ramai oleh orang-orang laki-laki dan membuat mereka kelihatan gembira.

Kelak, Kartini akan menghubungkan itu dengan keramaian pesta-pesta masyarakat Belanda dan kaum priyayi. Ia tahu jahatnya pengaruh minuman keras, karena melihat botol-botol minuman keras itu paling banyak dan bermacam-macam di pesta-pesta orang Belanda.

Kartini menulis: “Dalam masyarakat bimputera syukur Alhamdulillah kita belum pernah bertempur dengan setan minuman –tetapi saya khawatir sungguh-sungguh dengan kejahatan itu. Kebudayaan adalah suatu karunia, tetapi ia mempunyai juga segi-segi buruk. Saya kira, nafsu untuk meniru itu sudah menjadi pembawaan manusia. Rakyat jelata meniru kebiasaan kalangan di atasnya, kalangan ini meniru kalangan yang lebih tinggi lagi, dan kalangan ini meniru kalangan yang paling tinggi—yaitu  bangsa Eropa.

Suatu pesta bukan pesta betul kalau tidak dihidangkan minumas keras. Pada pesta-pesta orang Bumiputera yang tidak terlalu keras berpegang pada larangan agama, zaman sekarang juga dihidangkan minuman keras” [Kartini Sebuah Biografi, Sitisoemandari Soeroto – hal 38]

Kartini sebagai pribadi berwibawa dengan otak tajam dan berakal sehat memiliki observasi yang cepat. Keberaniannya untuk mengeluarkan pendapatnya menyeluruh, dan membela apa yang dirasakannya benar serta adil.

***

Kita tidak sedang membicarakan fenomena miras oplosan yang menelan korban nyawa hampir menyeluruh terjadi di tanah air Indonesia. Kejadian saat ini bisa menjadi catatan buat generasi mendatang.

Tahun 2045 Indonesia genap 100 tahun merdeka. Jika sekarang disebut sebagai negerasi milenial, maka generasi mendatang itu entah dinamakan apa. Yang pasti tingkat kekhawatiran Kartini, kalau masih boleh dipinjam, bakal semakin gelap.

Generasi yang lahir tahun 2018 akan berusia 27 tahun. Generasi yang saat ini masuk perguruan tinggi kira-kira berada pada usia produktif. Karirnya menuju puncak. Mereka tumpuan harapan karena menjadi pimpinan di berbagai sektor.

Semangat Kartini masih relevan dijadikan cermin agar generasi mendatang agar lebih baik. Kartini tumbuh mulai kanak-kanak menjadi dewasa tidak terlepas bimbingan orangtua.

Para orangtua dan orang-orang tua zaman now tentu mempunyai tantangan berbeda dengan generasi sebelumnya. Tetapi kewajiban menjaga pertumbuhan anak selalu sama dari tahun ke tahun. Perhatikan pendidikan anak-anak dengan sungguh-sungguh.

Pendidikan kepada anak-anak tentu bersifat menyeluruh. Pasalnya, selain menambah pengetahuan tidak kalah penting adalah menumbuhkan watak yang baik. Biasakan mereka sejak kecil untuk menanamkan rasa cinta terhadap sesama. Masih banyak sisi-sisi baik di tengah kemajuan teknologi.

Kita, orangtua dan orang-orang tua harus memahami usaha dan upaya merupakan kewajiban mutlak setiap mahluk hidup. Menanamkan pendidikan kepada anak memang tugas berat. Tetapi jika disertai kepercayaan kepada Tuhan Yang Esa maka segala apa yang dianggap berat bakal jadi ringan.

Kekhawatiran Kartini tentang miras pada waktu itu dan sekarang telah menjadi kenyataan adalah bagian dari sejarah. Bisa saja sejarah itu terbaca oleh kita, atau mungkin belum sempat membaca.

Tugas kita, orangtua dan orang-orang tua adalah menjadikan anak-anak sekarang tumbuh dengan watak baik. Semoga! (*)

*Senior editor enciety.co dan penulis buku

Marketing Analysis 2018