Hapus Korupsi, Ubah Sistem Transaksional jadi Transformasional

Hapus Korupsi, Ubah Sistem Transaksional jadi Transformasional
Kresnayana Yahya

Banyaknya kasus korupsi yang ditangani Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dilihat sebagai cerminan budaya transaksional yang selama ini terjadi. Untuk itu, bahwa harus ada upaya melakukan clean government mulai saat ini.

Caranya dengan mengubah perilaku dalam kehidupan sehari-hari dari sistem transaksional menjadi transformasional. Artinya, masyarakat harus sadar bahwa tidak hanya dengan kekuatan uang, tapi justru karena kekuatan transformasi akan membuat upaya clean government ini bisa berjalan.

Istilahnya begini, clean government itu harus dibentuk dari mengubah perilaku dalam kehidupan sehari-hari masyatakat. Apakah itu aturan, prosedur, jangan bersifat transaksi lagi. Kalau ini diteruskan korupsi akan terus menjadi jalan pintas bagi masyarakat untuk ingin kaya

Memang, tidak ada larangan semua orang ingin menjadi kaya. Namun yang dipersoalkan adalah cara menjadi kaya, lalu jangan menggunakan cara transaksional. Seperti gebrakan yang dilakuan China dengan mengubah sistem transaksional dengan mempercepat adanya transformasi. Satu di antaranya di sebuah kota kecil, Xiamen, yang dulunya mati justru saat ini maju dan sukses mentransformasikan sebuah desa menjadi kota.

Pernah suatu ketika, mahasiswa saya yang lulusan S2 di Jepang pulang ke Lumajang. Ia mengaku mau ikut panen ketimun. Dia bilang harga timun sangat murah, cuma Rp 500 per kilo. Padahal kan ini banyak orang butuh ketimun, tapi cari tenaga panen susah, dan tarifnya distribusinya mahal. Akhirnya, desa yang terlupakan seperti ini makin banyak.

Angkutan pedesaan di Jatim yang dulu pakai kereta api dimatikan, sekarang pemerintah harus menyediakan infrastruktur yang lebih baik.

Sama halnya dengan potensi pemuda di Indonesia yang distreotipkan untuk menjadi pegawai. Padahal banyak potensi dari dalam diri anak muda yang bisa disalurkan sesuai keahliannya. Ke depan, pemuda harus menjadi tenaga ahli dan pemikir, bukan lagi pegawai.

Selama ini, tidak ada lembaga yang mengajari pebisnis muda untuk menjembatani masuk dunia bisnis. Padahal ini penting. Ke depan yang penting di keluarga, sekolah, maupun lingkungan sosial jangan lagi menstreotipkan siswa menjadi pegawai. Pertanyaan kalau gede mau jadi apa, harus diganti menjadi kalau gede mau buat apa.

Ujian sekolah juga tidak hanya diajari tentang ilmu pasti yang nantinya siswa akan terus belajar contekan. Tapi sekolah juga harus menjembatani pemikiran siswa sesuai daya imajinasinya dan dari dalam diri siswa.

Kita sekarang harus berorientasi pada quality development. Memang penduduk kita lebih banyak, tapi harus lebih berkualitas. Tentu ada batas, jangan kelewat tidak berkualitas. Banyak daya dukung bumi, sumber daya manusia, tapi itu tidak akan cukup kalau kita berpikir egoistis. Pemikiran saya, punya anak banyak dan bisa menghidupi keluarga, tapi sebenarnya hidupnya tidak berkualitas.

Kalau kita punya dua anak, tapi kita persiapkan dan kita orientasikan menjadi pemikir, bukan tenaga kerja. Menjadi kreator, menjadi desainer, bangsa ini harus pindah ke situ. Kita harus manfaatkan bonus demografi ini. (*)

*Chairperson Enciety Business Consult dan Dosen Statistik ITS Surabaya

Marketing Analysis 2018