Hadiri Tanwir Aisyiyah, Wali Kota Risma Beber Skema Kemandirian Perempuan

Hadiri Tanwir Aisyiyah, Wali Kota Risma Beber Skema Kemandirian Perempuan

Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini (dua dari kanan) menghadiri acara Tanwir I Aisyiyah bersama pengamat politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Prof Siti Zuhroh dan dosen Universitas Indonesia, Chusnul Mariyah., Sabtu (20/1/2018)

Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini tampil memukau saat menjadi pembicara Tanwir I Aisyiyah di Kampus Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMSurabaya), Sabtu (20/1/2018). Wali kota yang sarat prestasi dunia itu membagi pengalaman memberdayakan ekonomi perempuan.

Selain Risma, dalam diskusi bertajuk “Peran dan Posisi Strategis Kepemimpinan Aisyiyah untuk Umat dan Bangsa” itu juga dihadiri pengamat politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Prof Siti Zuhroh dan dosen Universitas Indonesia, Chusnul Mariyah.

Risma mengatakan, awal menjadi wali kota Surabaya dia sangat berhasrat mengangkat harkat dan martabat perempuan. Caranya dengan menyediakan wadah yang tepat yang bisa melatih ketrampilan dan pengembangan diri. Hingga pada 2010, Risma membentuk Pahlawan Ekonomi Surabaya. “Ketika itu yang bergabung jumlahnya hanya 89 orang. Semuanya ibu rumah tangga,” ujar wali kota perempuan pertama di Surabaya itu.

Pahlawan Ekonomi, terang Risma, merupakan gerakan pemberdayaan ekonomi keluarga berbasis komunitas. Istilah dia, menghidupkan “mesin kedua” ekonomi keluarga. Di mana, para perempuan bisa menghasilkan pemasukan tambahan bagi keluarga tanpa meninggalkan rumah.

Pada saat itu, imbuh Risma , banyak pihak meragukan apa yang dirinya cita-citakan tersebut. Namun seiring berjalannya waktu, usahanya mengangkat derajat keluarga masyarakat Surabaya, terjawab.

Risma meyakini, di zaman modern, peran perempuan bukan lagi sebagai seorang ibu rumah tangga. Perempuan dituntut untuk dapat mampu membagi peran menjadi seorang ibu dan seorang profesional di bidangnya.

Dalam perjalanan, Risma melihat betapa berat mengajak perempuan untuk berwirausaha. Banyak sekali produk yang dihasilkan belum memenuhi standar alias kualitasnya rendah. Namun, setelah dilatih intensif dengan mendatangkan para mentor berpengalaman, lamat-lamat hasilnya mulai kelihatan.

“Di situlah saya yakin jika tak ada yang tidak mungkin. Dan sekarang banyak pelaku usaha Pahlawan Ekonomi yang meraup omzet besar, bahkan tak sedikit produknya yang dijual di luar negeri,” jelasnya.