Gramedia Berharap Geliat Pasar Toko Buku Online

Gramedia Berharap Pasar Toko Buku Online
Teks poto : Filise Kunaryanto.

Industri buku di Indonesia masih memberi harapan. Keberadaan berbagai komunitas pecinta buku dan penulis, menjadi bagian penting untuk mendongkrak penjualan buku di Tanah Air. Model bisnis baru pun mulai bermunculan, semisal penerbitan indie.

Hal itu diungkapkan Regional Manager Jatim-Bali-Lombok PT Gramedia, Filise Kunaryanto. “Meski nilainya kecil, tapi penerbitan indie itu terus berkembang,” ujarnya kepada enciety.co, baru-baru ini.

Interaksi intens antara pembeli dan penjual lewat social media mendorong penjualan buku. Buku yang semula dijual secara konvensional melalui toko buku, bergeser ke dunia maya via toko buku online.

“Tahun 2009, omzet penjualan buku via internet baru 2 persen dari seluruh penjualan buku. Tapi pada tahun 2010, naik menjadi 5 persen atau Rp 200 miliar. Prospeknya bagus,” papar Filise.

Namun Filise tak menampik jika problem terbesar bangsa ini adalah masih rendahnya minat baca. Data terakhir Organisasi Pengembangan Kerja Sama Ekonomi (OECD), budaya membaca Indonesia terendah di antara 52 negara Asia Timur.

“Bahkan menurut UNDP, posisi minat baca Indonesia peringkat 96, sejajar dengan Bahrain, Malta, dan Suriname. Sedangkan di Asia Tenggara, hanya dua negara berperingkat di bawah Indonesia, yakni Kamboja dan Laos,” urainya.

Filise juga mengungkap soal jumlah perpustakaan yang memadai baru sekitar 3.800 unit. Kenyataan ini membuat akses termudah untuk mendapatkan buku tetaplah di toko buku. Inilah yang menyebabkan bisnis toko buku tak akan dengan mudah tergantikan.

“Dan ke depan, kita harus siap menghadapi tantangan pesaing dari social media dan new model of business. Termasuk e-book,” ungkapnya.

Filise lantas menambahkan, rata-rata produksi buku baru di Indonesia berkisar 54 juta eksemplar per tahun dengan 18.000 judul. Tiras per tahunnya sekitar 3.000/judul. Jatim dan Bali sendiri masih menyerap 12 persen produksi buku tersebut, berada di bawah Jabodetabek 38 persen dan Sumatera 15 persen.(wh)

Marketing Analysis 2018