Gen Z, dari Aktivitas Virtual sampai Budaya Instan

Gen Z, dari Aktivitas Virtual sampai Budaya Instan
Kresnayana Yahya, foto: enciety.co

Generasi Z atau Gen Z bila tidak disikapi dengan bijak maka akan menimbulkan suatu konflik dengan generasi sebelumnya. Gen Z seperti mampu membuat perubahan di dunia. Berbagai inovasi dibuat oleh generasi muda ini dan istimewanya mereka tidak mau mengikuti langkah generasi sebelumnya.

“Contohnya, kini ada inovasi baru tentang ojek. Alat transportasi bermotor ini di perkotaan. Di tangan Gen Z dibuat secara berorganisasi atau yang lebih dikenal dengan sebutan Go-Jek. Komunitas muda ini besar dan powerfull. Mereka merasa tertantang dan aktualisasi jelas. Mereka rela keluar kerja dan pindah ke Go-Jek karena inovasi generasi Z ini,” tegas Chairperson Enciety Business Consult Kresnayana Yahya dalam acara Perspective Dialogue bertajuk “Kecenderungan Perilaku dan Tindakan Generasi Z” di Radio Suara Surabaya, Jumat (28/8/2015).

Berbagai ide dari Gen Z inilah yang harus dipahami oleh orang tua. Memang dengan banyaknya Gen Z yang menggunakan internet dan kecanggihan teknologi, di lain sisi juga ada negatifnya. Gen Z kini lebih banyak aktivitas virtual dan jarang bersosialisasi atau berkumpul. Mereka cepat mengambil keputusan dan secara instan.

“Kurangnya sosialisasi dengan masyarakat maka akan mudah mutung (kecewa, red),” terus dosen statistik ITS Surabaya ini.

Dirinya mencontohkan, kadang orang tua yang tidak tau kegiatan anaknya merasa heran dengan perbuatan sehari-harinya. Mereka tidak tau maka bilang ke anaknya katanya kerja kok masih di rumah. Padahal anaknya sudah kerja dengan internet atau berada di dunia kreatif.

Dan kini, konsep mendidik tidak bisa menjiplak persis antar orang tua. Di jaman ini, orang tua diharapkan tidak lagi memaksakan kehendaknya. “Ada salah satu mahasiswa lulusan ITS dan akan kerja di Jakarta tapi dilarang karena orang tuanya mintanya hanya kerja di Jatim. Si anak akan menjauh karena merasa ilmunya tidak berguna. Anak dan orang tua harus berkomunikasi. Jangan melarang dengan kata menghabisi yang tidak kita pahami,” tukasnya.

Sementara itu, psikolog Astrid Wiratna mengatakan, Gen Z dan generasi sebelumnya harus berkopromi. Ia memberikan saran agar bisa saja orang tua bisa memasang agama di gadget anaknya. Dengan mengingatkan seperti mengaji atau sembahyang bagi agama yang lain maka akan memfilter hal yang buruk menimpa Gen Z ini.

“Orang tua harus belajar hubungan sama anak dan tidak boleh putus. Dan diharapkan seorang ibu harus menerapkan pola manajemen kepada anaknya,” tutur dia.

Dengan menciptakan sebuah teamwork, maka sebuah keluarga akan meminimalkan sebuah tantangan. Orang tua harus memahami bila setiap generasi mempunyai ciri yang berkembang. Yang baik harus di pupuk dan yang kurang harus diingatkan. Tidak bisa jaman mundur kebelakang.

“Orang tua harus memahami dan jangan terus berpikiran negatif terhadap anak mereka. Ciptakan jembatan komunikasi,” papar dia. (wh)

Marketing Analysis 2018